Thursday, November 15, 2018

Namanya Luna (chapter 1)


Sebenarnya akupun bingung harus mulai cerita ini darimana. Tapi dorongan dari orang-orang disekitarku membawaku ke tahap sekarang ini, yaitu menulis sebuah kisah. Terlihat gampang memang, kata mereka kamu cukup menceritakan apa yang pernah kamu alami. Hhhh... andai saja semua memori yang ada di dalam kepalaku bisa ku tuangkan seperti sebotol air.
Baiklah, mari berbagi kisah. 

Namanya Luna, gadis yang orang-orang lihat sebagai gadis yang cukup ramah. Iya, dia memang terlihat selalu tersenyum seakan-akan hidup yang dia miliki adalah hidup yang sempurna. Luna duduk dibangku SMA kelas 2. Di sekolah, Luna tidak terlalu punya banyak teman. Karena Luna lebih suka menyediri daripada mencoba bergaul dengan teman-teman sekelasnya. Kebiasaanya di sekoklah saat jam istirahat yaitu membaca ulang buku Harry Potter favoritnya yang sudah ia baca ratusan kali mulai dari dia kelas 4 SD. Luna lebih sering membawa bekal dari rumah karena Luna lebih menyukai masakan ibunya. Luna mempunyai satu sahabat bernama Diana. Mereka mulai bersahabat dari kelas 1 SMA. Iya memang tidak lama, karena Luna juga tidak pernah punya teman saat SD ataupun SMP. Diana adalah satu-satunya orang yang Luna rasa paling tahan banting untuk berteman dengan Luna dengan jangka waktu yang lumayan lama. Pasalnya, gosip-gosip yang beredar mengenai Luna disekolah tidak begitu baik. Sehingga tidak banyak orang yang mau berteman dengan Luna. Perceraian orang tuanya dan sikap ayahnya yang tidak masuk akal sungguh membuat hidup Luna serasa di neraka. Belum lagi kejadian yang terjadi pada masa kecilnya yang dia alamai saat masih SD. Luna pernah mendapatkan pelecehan seksual oleh guru mengajinya saat Luna masih duduk dibangku kelas 3 SD, guru mengaji yang pada saat itu datang setiap hari kerumahnya. Lunapun selalu melihat orang tuanya bertengkar. Ayahnya yang selalu memukuli ibunya, lalu ibunya yang berteriak-teriak ke arah ayahnya dari pagi sampai pagi lagi sudah seperti makan sehari-hari Luna. Masa kecil Luna memang bisa dikatakan tidak cukup menyenangkan seperti anak-anak yang lain. Hari-hari yang Luna lalui dari SD sampai dengan SMP tidak berjalan seperti anak seumurnya saat itu. Saat SMP, Lunapun harus dibawa ke psikiater oleh Ibunya karena setiap hari emosi Luna bisa berubah-ubah dalam sesaat. Terkadang dia bisa begitu gembira, tapi saat malam datang, Luna bias menangis tersedu-sedu sambil memanggil nama ayahnya. Ayah Luna sudah meninggalkan rumah saat Luna masih duduk dibangku kelas 2 SMP. Padahal Luna sangat dekat dengan sosok ayahnya. Namun hatinya seperti dipukul palu dan hancur menjadi serpihan-serpihan kecil saat mengetahui ayahnya meninggalkannya dan keluarganya untuk wanita lain. “Jadi selama ini yang aku banggain itu apa? Siapa?” ujar Luna dalam hati saat itu. Selama ini, Luna berusaha keras menutupi kesedihannya dengan lebih banyak tersenyum atau menulis. Lalu Diana datang di kehidupan Luna. Diana adalah anak yang ceria, ceplas-ceplos, dan bukan tipe orang yang suka menelan mentah-mentah omongan orang yang suka menjelek-jelekan sahabatnya itu. Diana selalu bilang, "Mereka itu bukan asisten Tuhan. Jadi mereka ngga berhak buat ngejudge elo." Semenjak mendengar kata-kata itu pula Luna menjadi lebih nyaman untuk berteman dengan Diana.

Sore itu, Luna sedang asik mengerjakan hobinya, menulis. Gerimis hujan membasahi jendala kamarnya pada saat itu. Pikirannya masih saja terpacu pada hal yang sama,  pada sikap teman-temannya disekolah setiap harinya. “Emang salah aku apa sih sama mereka? Padahal kan mereka tau kalau dia itu ayah aku? Apa hak mereka buat menilai aku sedemikan rupa?" Saat ini, disekolah Luna sedang merebak gossip panas tentang Luna, beberapa teman sekelasnya melihatnya bersama ayah Luna di sebuah mall. Meskipun Luna kecewa dengan sikap ayahnya, Luna masih saja ingin bertemu dengan ayahnya. Lunapun selalu bertemu ayahnya secara diam-diam karena ibunya tidak mengijinkan Luna untuk bertemu dengan ayahnya. Namun, bukan itu yang menjadi masalah, masalahnya mereka yang melihat Luna bersama ayahnya, menyebar gossip bahwa Luna sedang menemani om-om jalan-jalan ke mall. Manusia-manusia itu, suka sekali mendengar sesuatu yang belum tentu benar. Mengingat hal itu, Luna hanya bisa menundukan kepalanya di atas meja. 

Tiba-tiba Luna tersentak mendengar dering telfonnya, itu dari sahabatnya, Diana. "Ada apa Di?" ujarnya sambil tersenyum. " Elo ngga jadi dateng nih?! kan elo janji mau ngerjain tugas bareng sekalian kita beli martabak ya dijalan?" oceh Diana di seberang telfon. "Iya sampe nanti." jawab Luna singkat dan langsung menutup telfonnya. Luna bergegas mematikan laptopnya dan membereskan buku-buku yang akan dibawanya. Menurutnya, menghabiskan waktu bersama sahabatnya itu adalah hal yang paling mengasikan di dunia selain menulis. Karena dengan begitu Luna bisa melupakan sejenak masalah-masalah yang sedang dihadapinya.

Seperti biasanya, Luna menunggu Diana di depan pagar rumahnya. Luna sedang sering melamun akhir-akhir ini, pikirannya sedang terbagi-bagi dengan banyak hal. Sampai akhirnya suara klakson motor Diana mengagetkannya. "Apaan sih Di?" katanya sedikit sebal. "Lagian ngelamun aja neng, tumben." jawab Diana sambil nyengir. "Uda nggapapa. Ayuklah, keburu magrib." Luna menanggapi omelan Diana sambil lalu dan langsung naik ke atas motor. Mereka menyusuri jalanan yang sedikit basah dan berhenti sejenak untuk membeli martabak.

Sesampainya di rumah Diana, Luna langsung pergi ke kamar Diana dan merebahkan diri di atas kasur. Rumah Diana memang lebih terasa seperti rumah yang sebenarnya untuk Luna. Semua anggota keluarga sahabatnya itu menyayanginya dan membuatnya merasa sangat nyaman. Ayah dan ibunya selalu terlihat akur dan selalu tertawa. Merekapun menganggap Luna seperti anak mereka sendiri. "Seandainya aja.." pikir Luna sedih. Diana yang melihat Luna tampak tidak semangat langsung meleparnya dengan bantal. "Ngapain lo? Melo lagi? Mikirin gossip yang lagi hot itu? Uda tenang aja ngga usah dipikirin. Manusia-manusia macem Kania itu, cuma manusia yang hidupnya ngga asik. Mereka pikir idup orang lain lebih menarik buat di omongin daripada idup mereka sendiri." Oceh Diana mencoba menghibur Luna. Luna menghela nafas panjang. "Engga Di, gue cuma capek." jawab Luna singkat. Seandainya saja hidup Luna semudah apa yang Diana ucapkan. Luna memang tidak pernah menceritakan masalah keluarganya ataupun mengungkapkan kegelisahannya, Luna juga tidak pernah membicarakan tentang masa lalu yang dialaminya saat iya masih kecil terhadap siapapun termasuk Diana sahabatnya. Menurutnya, berbagi kesedihan kepada orang lain cuma menambah beban orang tersebut.

Luna beranjak dari kasur saat Diana sedang asik makan martabak yang mereka beli dalam perjalanan. Lunapun mengambil gitar yang ada di dekatnya sambil bersenandung lirih. Buku-buku yang dibawanya ia geletakan di lantai kamar Diana. Ditengah-tengah lagu Luna berhenti, "Di, elo pernah ngga sih, ngebayangin atau berharap kalo sebenernya elo tuh cuma anak pungut dan tiba-toiba orang tua kandung elo dateng buat ngambil elo?" Luna menyadari bahwa pertanyaan yang baru saja dia tanyakan kepada sahabatnya ini terdengar konyol. " Elo lagi sakit ya? Kumat lagi? Sinting lo ah!" jawab Diana sambil tertawa. Luna hanya tersenyum. Luna masih berusaha keras untuk tidak memikirkan apa yang terjadi terhadap orang tuanya ataupun gossip-gosip yang sedang beredar soal dirinya di sekolah. "Ya kan siapa tau elo ternyata anaknya Brad Pitt?" sanggah Luna cepat. "Terus nyokap gue Angelina Jolie gt? emang mirip? Emang sih gue mancung. Tapi ya ngga mungkinlah! Ngga usah ngaco lo ah.” Jawab Diana dengan tawa yang semakin menjadi. Mereka melanjutkan sore itu dengan candaan dan bergosip ala remaja seumuran mereka dan lupa akan tugas sekolah yang seharusnya mereka kerjakan. Luna sangat senang berlama-lama di kamar Diana, pikiran tentang masa lalunya dan keluarganya seakan-akan menghilang begitu saja.

Tiba-tiba candaan mereka terhenti oleh suara pesan yang tak henti-hentinya dari hape Diana. " Lun, nih si Dika 13x ngeWA gue nanyain elo dimana, di jawab nggak nih?" Tanya Diana dengan nada yang sedikit jengkel. "Iya udah jawab aja" Jawab Luna singkat. Dika adalah teman laki-laki Luna yang paling dekat setahun belakangan ini. Bahkan mungkin satu-satunya dalam hidup Luna. Iya, karena gosip-gosip itu juga Luna tidak pernah mempunyai pacar. Luna seakan trauma untuk hanya sekedar berteman dengan laki-laki. Tapi kegigihan dan perhatian yang Dika tunjukan membuat Luna sangat menyayangi Dika, baginya Dika adalah sosok laki-laki yang bisa menggantikan ayahnya. Karena Dika sangat protektif dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Luna. Dika bersekolah di SMA yang berbeda dengan Luna. Tiap harinya Dika selalu mengantar jemput Luna kemanapun Luna pergi. Terkadang, Lunapun merasa tidak enak dengan sikap Dika yang seperti itu, karena meskipun mereka dekat, Luna sudah puluhan kali menolak Dika. Bagi Luna Dika adalah seseorang yang terlalu berharga untuk dijadikan seorang pacar. Namun begitu, hubungan pertemanan mereka sangat-sangat harmonis. Luna merasa besyukur karena Dika tidak bersekolah di sekolah yang sama dengan Luna. Karena jika iya, belum tentu Dika mau berteman dengan Luna, atau bahkan menyukai Luna seperti sekarang ini. Sebenarnya Luna sendiri tidak yakin apakah Dika benar-benar tidak tau tentang gossip yang beredar di sekolah Luna mengenai dirinya. Pasalnya Dika cukup populer dikalangan antar SMA. Atau, Dika cuma pura-pura tidak tahu?

Selang beberapa saat, Dika sudah berada di depan rumah Diana. Buru-buru ia menelfon Diana. " Di, turunlah! Bukain pintu dong!" Diana mengangkat telfon sambil tersedak. “Ni orang bener-bener ngga bisa nyantai kalo ngomong sama gue.” gerutunya kesal. Diana yang sedang asik menghabiskan martabak yang memang tinggal sedikit langsung turun dari kamarnya untuk membukakan pintu. Merekapun bergegas menuju ke kamar Diana untuk menghapiri Luna. "Hey Lun, kok telfon gue ngga lo angkat sih?" Tanya Dika seketika itu juga. "Maaf Ka, gue tadi lagi asik nulis, terus gue ke rumah Diana dan gue lupa bawa hape." Jawab Luna. Dika tampak sedikit kesal, tapi apadaya, Dika memang paling tidak bisa marah dengan Luna, jadi Dika hanya mengangguk singkat. Keheningan yang canggung membawa Luna ke dalam lamunannya.

      "Mereka semua datang, sebagian datang untuk bersenang-senang. Dan sebagian untuk dikenang. Tapi aku? Apa aku pantas untuk sekedar dikenang?" 

"Eh kupret, elo ngapain nyariin si Luna? Ngga bisa apa ngga usah ngintilin dia sehari aja?" ujar Diana mencairkan suasana. "Kagak!" jawab Dika singkat. Dengan sigap Dika langsung merebahkan diri di kasur kamar Diana. Diana langsung melemparkan bantal ke muka Dika. "Dasar kebo! Mau numpang tidur aja pake alesan nyariin si Luna." Ceplos Diana sambil lalu. " Dikapun hanya mendengus malu mendengar ucapan Diana. Luna kembali tersenyun melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Luna selalu berpikir mereka berdua adalah sabahat terbaik yang Luna punya. Luna sendiri tidak tahu bagaimana dia bisa melalu hari-harinya jika kedua sahabatnya ini tidak berada disampingnya. Setidaknya, merekalah yang selalu ada pada saat-saat sulit hidup Luna. Dengan kehadiran mereka, Luna merasa siap menghadapi dunia yang saat ini memang sedang berjalan berlawanan dengannya. Paling tidak, karena merekalah Luna mulai berani sedikit berharap bahwa semuanya akan baik-baik pada akhirnya. Luna yang masih memegang gitar milik Diana mulai bersenandung lagi. Kali ini Luna menyanyikan lagu Jason Mraz, "Lucky". 

"Lucky I'm in love with my best friend. Lucky to have been where I have been. Lucky to be coming home again..
Ooh.. ooh.. ooh.. ohh.." 

Suara Luna memang lumayan bagus. Kedua sahabatnyapun ikut bersanandung dengan Luna. Mereka menghabiskan sisa sore itu dengan candaan dan nyanyian galau yang suka Luna lantunkan. Sesekali mereka bertepuk tangan untuk Luna saat ia menyelesaikan satu lagu. Luna merasa bahagia sekali sore itu. Senyum lebar terpasang diwajahnya. Sejenak, Luna bisa melupakan semua masalahnya.

“Tapi bagaimana dengan besok? Atau Lusa? Atau bahkan bagaimana dengan masa depanku nanti? Omongan mereka mana bisa ditarik lagi? Ahh… kupikirkan nanti saja.” Ujar Luna dalam hati.



-To Be Continued

No comments:

Post a Comment

Chapter thirteen

There was a time when i thought everything was gonna last forever and everything was always gonna be ok. Just when i thought the story...