Friday, November 16, 2018

Chapter five

Teruntuk kalian yang tersakiti dan dihakimi. Tenang saja, orang-orang itu bukan pembaca. Mereka hanya customer yang punya hobi melihat sampul buku di toko-toko. Mereka tidak akan pernah tau apa isi dari buku itu karena mereka malas untuk membacanya. Mereka tidak tau rasanya dikucilkan, mereka tidak tau bagaimana rasanya saat punggungmu ditusuk dengan penghianatan dan mereka juga tidak pernah tau ketika dunia seakan menguncimu diruang kosong dan gelap dan tak seorangpun mau menyelamatkanmu.
Hanya kamu yang tau. Kamu yang muak akan senyum palsu yang mereka tawarkan, kamu yang tau bahwa mereka hanya pura-pura peduli, padahal mereka hanya sekedar ingin tahu sebagai bahan mereka untuk bergossip.
Mereka itu cuma pemeran figuran di kehidupanmu,
Kamu yang tau kalau kamu juga punya hak untuk membangun lagi puing-puing kebahagian yang telah mereka hancurkan.
Melangkahlah bersamaku. -K

🌎 in every inch of your step. 2018

Luna yang Kuat (chapter 2)

"Lunaaaa... bangun! kamu ngga sholat subuh?" saat itu pukul 05.00 pagi. Teriakan ibu Luna yang cukup keras membuat Luna terbangun dari mimpinya. Mimpinya indah, semuanya bersama, ada ayah dan ibunya, ada Luna dan adik perempuannya sedang pergi ke taman hiburan yang dulu pernah mereka lakukan saat usia Luna 7 tahun. "Iya bu, Luna bangu." Luna beranjak dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi untuk wudhu dan setalh itu bergegas untuk menunaikan sholat subuh. Doanya selalu sama, Luna ingin ayahnya kembali. 

Selesai sholat dan berdoa, Luna duduk di pojok jendela kamarnya. Di luar masih gelap. Matahari belum menampakan sinarnya. Sepi sekali diluar, Luna hanya melihat beberapa tetangga yang sudah cukup tua berjalan pulang dari arah masjid. "Kalau memang benar Tuhan itu ada, tolong kabulkan doaku sekali aja." Gumam Luna pada dirinya sendiri. Matahari sudah mulai tampak, tanpa sadar sudah 1 jam Luna duduk di dekat jendela. Kebiasaan Luna yang lain adalah, Luna bisa duduk berjam-jam dan tidak melakukan apapun di pojok kamarnya itu. Luna menengok ke arah jam dinding, sudah jam 6 tepat. Luna tersontak dari lamunannya dan segera bersiap-siap untuk ke sekolah.

Luna bergegas turun untuk sarapan bersama adiknya dan berpamitan kepada ibunya yang sudah siap untuk berangkat kerja. Seperti biasanya, Dika sudah menggu Luna di depan pagar untuk mengantar Luna ke sekolah. Di dalam perjalanan, Luna dan Dika tidak terlalu banyak bicara. Jantung Luna berdegup kencang, dia tidak pernah setakut ini untuk pergi ke sekolah. Memang, gossip yang beredar soal Luna ini sudah cukup lama, tapi entah kenapa, perasaan Luna kali ini sungguh berbeda dari biasanya setelah pertemuannya yang terakhir dengan ayahnya dan berakhir dengan Luna juga bertemu dengan Jojo, Kania dan Akbar di sebuah mall. Luna takut dengan apa yang akan terjadi, Luna takut jika gossip tentangnya bertambah parah. Luna takut mendengar gossip itu langsung di telinganya. Luna takut dengan tatapan merendahkan dari teman-teman sekelasnya. Semua pikiran itu bergejolak di kepala Luna. Tanpa Luna sadari, akhirnya Luna sampai disekolahnya. "Lun, uda sampe nih. Elo ngga turun?" Tanya Dika. "Eh iya, uda sampe ya? Makasih ya Ka. Sampe nanti." Jawab Luna sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Dika mengambil helm yang disodorkan Luna, lalu pergi sambil tersenyum balik kepada Luna.

"This is it! Aku harus bisa ngadepin hal sepele macem ini." Kata Luna pada dirinya sendiri. Luna melangkah menuju kelasnya. Sudah seperti yang Luna duga, orang-orang disekeliling Luna menatapnya dengan pandangan yang lebih merendahkan dari biasanya. Bahkan sebagian dari mereka malah terang-terangan meneriakinya. "Cieee.. tas baru ya Lun, dapet dari om-om yang kemaren?" Ejek Jojo sambil tertawa bersama teman-temannya. Jojo adalah salah satu teman sekelas Luna yang tidak sengaja bertemu di mall saat Luna sedang bersama ayahnya. Luna hanya menunduk dan berjalan lebih cepat ke kelasnya. Sesampainya di kelas, Luna menaruh tasnya di bangku pojok paling depan yang dekat dengan pintu. Luna tidak punya teman sebangku, karena itu dia langsung berlari menuju kelas sebelah untuk menghampiri Diana. Luna hanya berani mengintip dari luar kelas untuk mencari Diana. "Di, sahabat tersayang elo tuh nyariin. Kok elo masih mau sih temenan sama dia?" Tanya salah satu teman sekelas Diana. "Diem lo! Brisik amat ngurusin urusan orang." Tukas Diana ketus sambil berjalan keluar kelas untuk menghampiri Luna. Luna yang ada tepat di luar kelas tentu saja bisa mendengar jelas apa yang teman sekelas Diana ucapkan tentang dirinya. Tanpa sadar, air mata Luna mengalir. "Jangan Lun, jangan disini." kata Luna pada dirinya sendiri. Diana yang sudah berada di sampingnya langsung menariknya pergi menuju ke kamar mandi anak perempuan. Mereka langsung masuk ke dalam toilet kosong dan seketika Lunapun menangis lebih kencang. Diana memeluknya erat. "Lun, udah. Elo itu cewe yang kuat. Ngga usah dipikirinlah. Kan ada gue. Gue bakal selalu ada buat elo." Luna hanya mengangguk sambil masih sesenggukan. Akhirnya Luna menceritakan apa yang Jojo katakan kepadanya saat baru saja sampai di sekolah pagi ini terhadap Diana. "Elo mending lapor aja deh ke guru BK Gue temenin. Kalo perlu gue bantuin ngomong. Manusia-manusia kurang kerjaan macam mereka emang mesti dikasih pelajaran." Saran Diana kepada Luna. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk meyakinkan Luna untuk mau pergi menemui guru BK.

Luna dan Diana tidak kembali ke kelas mereka. Mereka pergi untuk menemui guru BK. Setalah menunggu selama 10 menit akhirnya Pak Teguh menghampiri mereka. Pak Teguh adalah guru konseling anak-anak kelas 2, kepalanya botak dan terlihat galak. Suaranya kencang setiap kali ia memanggil murid yang ia dapati melanggar peraturan sekolah. Tak ada satu muridpun yang tak takut dengannya. Kebanyakan dari mereka malah langsung putar balik ke arah sebaliknya begitu melihat Pak Teguh dari kejauhan. Namun siapa sangka, ternyata Pak Teguh sangat kebapakan saat muridnya datang ke ruang konseling untuk menemuinya. "Ada apa ini Luna? Tidak biasanya kamu menemui bapak." Ujar pak Teguh sangat ramah. Mata hitamnya memandang Luna dan Diana bergantian seakan sedang menebak-nebak apa yang sedang terjadi. 

Diana yang sudah tidak sabar menahan emosinya akhirnya menceritakan apa yang di alami Luna pagi tadi. Tidak cuma itu, Diana juga menceritakan soal gossip tentang Luna yang sudah tersebar beberapa bulan terkahir dan yang beberapa hari terakhir ini menjadi semakin parah. Iya, ini soal Luna yang dicap sebagai perempuan murahan, perempuan panggilan yang biasa menemani laki-laki separuh baya. Pak Teguh mendengarkan cerita Diana dengan seksama. Matanya tidak berkedip. Beliau juga tidak menyela sedikitpun. Lunapun hanya terdiam sambil menangis. Setelah cerita Diana selesai,  keheningan menjalar di ruang konseling itu. Namun tiba-tiba Pak Teguh beranjak dari tempat duduknya dan pergi tanpa sepatah katapun.

Selang beberapa saat, Pak Teguh kembali ke ruang konseling. Namun beliau tidak sendirian, beliau bersama, Jojo, Kania dan Akbar. Tentu saja mereka bertiga kaget melihat Luna dan Diana ada disana juga. Luna yakin, mereka bertiga tau persis kenapa mereka dipanggil keruang konseling. Mereka bertiga duduk berhadapan dengan Luna dan Diana. Diana yang sudah menahan emosinya dari tadi sekarang sudah mulai mengepal-ngepalkan tangannya. Luna yang berusaha menahan tangis di depan mereka akhirnya meluapkan tangisannya juga. Bukan karena Luna takut, tapi karena Luna sudah tidak bisa lagi menahan marah. Pak Teguh yang berada di tengah-tengah mereka sedang sibuk mengrim pesan kepada seseorang melalui telfon genggamnya. Semua murid yang ada diruang konseling tidak saling bertegur sapa ataupun berkata sepatah kata. Semuanya hanya tertunduk dan memainkan jarinya masing-masing.

Pak Teguhlah yang mengambil inisiatif memecah keheningan itu. “ Jadi kalian bertiga tau kan, kenapa kalian saya panggil kemari?” tanyanya terhadap Jojo, Kania dan Akbar. Mereka bertiga kompak menggelengkan kepalanya. Luna dan Diana memandang mereka dengan kemarahan yang tidak bisa dilukiskan lagi. Karena Jojo, Kania dan Akbar mengaku tidak mengerti kenapa mereka di panggil keruang konseling, Pak Teguhpun menjelaskan kepada mereka bertiga alasan kenapa mereka dipanggil ke ruang konseling. Beliaupun memborbardir mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama sekali tidak ada yang mereka jawab. Karena sikap mereka bertiga yang tidak kooperatif tersebut, akhirnya Pak Teguh mengambil tindakan lain. Beliau lagi-lagi berjalan keluar ruangan dengan diam.

Ruang Konseling masih saja hening, Luna mengeggam tangan Diana dan memberinya kode suapaya Diana tidak bertindak ceroboh saat Pak Teguh sedang tidak ada. Dan beberapa saat kemudian, Pak Teguh kembali bersama orang-orang yang membuat Luna dan murid lainnya kaget dan cemas. Mereka adalah ayah dan ibu Luna, serta ibu Kania yang bekerja sebagai guru ekonomi di sekolah mereka. Luna duduk terpaku, kakinya tidak bisa digerakan. Mulutnya terasa di kunci rapat-rapat. Bukan kedatangan orang tuanya yang Luna takutkan. Tapi, selama ini Luna selalu sembunyi-sembunyi untuk bertemu ayahnya. Ibunyapun tidak pernah tau. Luna mulai takut membayangkan apa yang akan terjadi padanya dirumah nanti.

Setelah semuanya duduk, Pak Teguh mulai biacara lagi. Beliau menjelaskan kembali apa yang terjadi dan di alami Luna di sekolah beberapa bulan terakhir ini. Semuanya diam dan mendengarkan beliau dengan seksama. Sampai pada akhirnya Pak Teguh bertanya kepada Jojo, Kania dan Akbar, “Jadi ini adalah ayah Luna yang mungkin kalian liat di mall bersama Luna beberapa hari yang lalu dan mungkin beberapa bulan yang lalu juga. Apakah benar beliau orangnya?” Ketiganya tidak ada yang berani melihat ke arah ayah Luna. Namun Kania yang merasa sedikit aman karena ibunya ada disana mulai berani angkat bicara. “Ngga tau Pak, lupa. Saya ngga terlalu jelas melihat mukanya waktu itu.” jawab Kania dengan nada yang sangat menyebalkan. Luna yang sudah tidak mampu membendung amarahnya mulai berteriak ke arah Kania. “Apa lo bilang? Ngga tau? Jelas –jelas elo liat kan? Elo tau persis gimana muka bokap gue, Bokap gue juga pernah nganterin elo pulang kerumah waktu kita satu SMP. Jahat banget ya elo sama gue, salah apa sih gue sama elo?” Lunapun meluapkan emosinya dengan menangis lagi. Ibu Luna yang ada di situ langsung beranjak dari tempat duduknya dan menhampiri Luna untuk menenangkannya bersama Diana. Ayah Luna sendiri tidak berbuat apapun pada saat itu. Setelah mendengar kata-kata Luna, Kania kembali menunduk dan kembali memainkan jari-jari tangannya. Pak Teguhpun dengan sigap menanggapi pernyataan Luna dan bertanya kepada Kania kebenarnya. Kania hanya mengangguk kecil. Semua yang ada diruangan itu memandang ke arah Kania. Melihat anggukan Kania, Pak Teguh langsung menyuruh Kania, Jojo dan Akbar untuk minta maaf terhadap Luna. “Maaf? Udah? Mereka pikir minta maaf di dalem ruangan konseling bisa ngerubah pemikiran orang-orang di luar sana soal aku?” Luna menggerutu dalam hati. Dengan terpaksa iapun menjabat tangan mereka bertiga. Pak Teguh juga mengungkapkan bahwa mereka bertiga akan diberi sangsi, bahkan Kania bisa terancam diskros dari sekolah karena ternyata dialah dalang yang menyebarkan isu tentang Luna. Ibu Kania yang mendengar anaknya hendak di skros langsung keluar ruangan dengan wajah yang sangat marah. Sesaat setelah Pak Teguh membuat keputusan tersebut, Pak Teguh mempersilahkan Jojo, Kania dan Akbar mengemasi tas mereka dan pulang kerumah karena mereka harus langsung menjalai hukuman. Sedangkan Luna diijinkan pulang bersama orang tuanya untuk menenangkan diri. Dan Diana bisa kembali ke kelasnya untuk mengikuti pelajaran.

Sesampainya Luna dan kedua orang tuanya di depan gerbang, Lunapun berinisiatif untuk langsung menuju ke arah mobil ibunya yang diparkir di depan sekolah. Lunapun juga tidak berkata sepatah katapun kepada ayahnya yang memang langsung meninggalkan Luna bersama ibunya. Di dalam mobil, ibu Luna membrondong Luna dengan pertanyaan-pertanyaan soal ayahnya. Lunapun tidak menjawab ibunya dan hanya terdiam sepanjang perjalanan pulang.

Dirumah, ibu yang tadinya terlihat baik-baik saja dan tenang di sekolah sambil memeluk Luna, sekarang terlihat sangat marah. “Luna, tunggu dulu! jadi selama ini kamu masih ketemu sama ayah kamu diem-diem?” tanya ibunya dengar suara sedikit bergetar. Luna yang tadinya bermaksud untuk langsung naik ke kamarnya, tiba-tiba berhenti dan membalikan badan sambil mengangguk pelan. “Kamu tau kenapa ibu selalu larang kamu buat ketemu ayah kamu? Karena setiap kali kamu ketemu dengan ayah kamu, emosi kamu jadi ngga sstabil. Kamu mau balik lagi ke psikiater? Asal kamu tau ya, ayah kamu itu di luar sana berkoar-koar kalau ibu kamu ini menjual kamu ke pengacara ibu. Dia pikir ibu ngga bisa bayar pengacara, makanya ibu jual kamu. Ibu sakit Luna, ibu ngga mau ayah kamu merusak masa depan kamu.” Ibu Lunapun berbicara sambil menangis. Hati Luna mencelos mendengar cerita ibunya. Hatinya sakit sekali. Untuk kedua kalinya, hati Luna hancur. Luna berlari ke atas menuju kamarnya dan duduk di pojok dekat jendela sambil memandang keluar. Air matanya tak henti-hentinya mengalir. “Kenapa ayah? Kenapa ayah tega ngomong kaya gitu tentang Luna? Ayah bilang Ayah sayang sama Luna. Ayah bohong! Pembohong! Sama seperti yang lainnya.” Lunapun menangis sampai akhirnya dia tertidur, di pojok jendala kamarnya. Tempat favoritnya.


There are things that we can have but we can’t keep. Something that we can see but we can’t touch. Things that we can feel but we can’t see. –K”



-To be Continued


Thursday, November 15, 2018

Namanya Luna (chapter 1)


Sebenarnya akupun bingung harus mulai cerita ini darimana. Tapi dorongan dari orang-orang disekitarku membawaku ke tahap sekarang ini, yaitu menulis sebuah kisah. Terlihat gampang memang, kata mereka kamu cukup menceritakan apa yang pernah kamu alami. Hhhh... andai saja semua memori yang ada di dalam kepalaku bisa ku tuangkan seperti sebotol air.
Baiklah, mari berbagi kisah. 

Namanya Luna, gadis yang orang-orang lihat sebagai gadis yang cukup ramah. Iya, dia memang terlihat selalu tersenyum seakan-akan hidup yang dia miliki adalah hidup yang sempurna. Luna duduk dibangku SMA kelas 2. Di sekolah, Luna tidak terlalu punya banyak teman. Karena Luna lebih suka menyediri daripada mencoba bergaul dengan teman-teman sekelasnya. Kebiasaanya di sekoklah saat jam istirahat yaitu membaca ulang buku Harry Potter favoritnya yang sudah ia baca ratusan kali mulai dari dia kelas 4 SD. Luna lebih sering membawa bekal dari rumah karena Luna lebih menyukai masakan ibunya. Luna mempunyai satu sahabat bernama Diana. Mereka mulai bersahabat dari kelas 1 SMA. Iya memang tidak lama, karena Luna juga tidak pernah punya teman saat SD ataupun SMP. Diana adalah satu-satunya orang yang Luna rasa paling tahan banting untuk berteman dengan Luna dengan jangka waktu yang lumayan lama. Pasalnya, gosip-gosip yang beredar mengenai Luna disekolah tidak begitu baik. Sehingga tidak banyak orang yang mau berteman dengan Luna. Perceraian orang tuanya dan sikap ayahnya yang tidak masuk akal sungguh membuat hidup Luna serasa di neraka. Belum lagi kejadian yang terjadi pada masa kecilnya yang dia alamai saat masih SD. Luna pernah mendapatkan pelecehan seksual oleh guru mengajinya saat Luna masih duduk dibangku kelas 3 SD, guru mengaji yang pada saat itu datang setiap hari kerumahnya. Lunapun selalu melihat orang tuanya bertengkar. Ayahnya yang selalu memukuli ibunya, lalu ibunya yang berteriak-teriak ke arah ayahnya dari pagi sampai pagi lagi sudah seperti makan sehari-hari Luna. Masa kecil Luna memang bisa dikatakan tidak cukup menyenangkan seperti anak-anak yang lain. Hari-hari yang Luna lalui dari SD sampai dengan SMP tidak berjalan seperti anak seumurnya saat itu. Saat SMP, Lunapun harus dibawa ke psikiater oleh Ibunya karena setiap hari emosi Luna bisa berubah-ubah dalam sesaat. Terkadang dia bisa begitu gembira, tapi saat malam datang, Luna bias menangis tersedu-sedu sambil memanggil nama ayahnya. Ayah Luna sudah meninggalkan rumah saat Luna masih duduk dibangku kelas 2 SMP. Padahal Luna sangat dekat dengan sosok ayahnya. Namun hatinya seperti dipukul palu dan hancur menjadi serpihan-serpihan kecil saat mengetahui ayahnya meninggalkannya dan keluarganya untuk wanita lain. “Jadi selama ini yang aku banggain itu apa? Siapa?” ujar Luna dalam hati saat itu. Selama ini, Luna berusaha keras menutupi kesedihannya dengan lebih banyak tersenyum atau menulis. Lalu Diana datang di kehidupan Luna. Diana adalah anak yang ceria, ceplas-ceplos, dan bukan tipe orang yang suka menelan mentah-mentah omongan orang yang suka menjelek-jelekan sahabatnya itu. Diana selalu bilang, "Mereka itu bukan asisten Tuhan. Jadi mereka ngga berhak buat ngejudge elo." Semenjak mendengar kata-kata itu pula Luna menjadi lebih nyaman untuk berteman dengan Diana.

Sore itu, Luna sedang asik mengerjakan hobinya, menulis. Gerimis hujan membasahi jendala kamarnya pada saat itu. Pikirannya masih saja terpacu pada hal yang sama,  pada sikap teman-temannya disekolah setiap harinya. “Emang salah aku apa sih sama mereka? Padahal kan mereka tau kalau dia itu ayah aku? Apa hak mereka buat menilai aku sedemikan rupa?" Saat ini, disekolah Luna sedang merebak gossip panas tentang Luna, beberapa teman sekelasnya melihatnya bersama ayah Luna di sebuah mall. Meskipun Luna kecewa dengan sikap ayahnya, Luna masih saja ingin bertemu dengan ayahnya. Lunapun selalu bertemu ayahnya secara diam-diam karena ibunya tidak mengijinkan Luna untuk bertemu dengan ayahnya. Namun, bukan itu yang menjadi masalah, masalahnya mereka yang melihat Luna bersama ayahnya, menyebar gossip bahwa Luna sedang menemani om-om jalan-jalan ke mall. Manusia-manusia itu, suka sekali mendengar sesuatu yang belum tentu benar. Mengingat hal itu, Luna hanya bisa menundukan kepalanya di atas meja. 

Tiba-tiba Luna tersentak mendengar dering telfonnya, itu dari sahabatnya, Diana. "Ada apa Di?" ujarnya sambil tersenyum. " Elo ngga jadi dateng nih?! kan elo janji mau ngerjain tugas bareng sekalian kita beli martabak ya dijalan?" oceh Diana di seberang telfon. "Iya sampe nanti." jawab Luna singkat dan langsung menutup telfonnya. Luna bergegas mematikan laptopnya dan membereskan buku-buku yang akan dibawanya. Menurutnya, menghabiskan waktu bersama sahabatnya itu adalah hal yang paling mengasikan di dunia selain menulis. Karena dengan begitu Luna bisa melupakan sejenak masalah-masalah yang sedang dihadapinya.

Seperti biasanya, Luna menunggu Diana di depan pagar rumahnya. Luna sedang sering melamun akhir-akhir ini, pikirannya sedang terbagi-bagi dengan banyak hal. Sampai akhirnya suara klakson motor Diana mengagetkannya. "Apaan sih Di?" katanya sedikit sebal. "Lagian ngelamun aja neng, tumben." jawab Diana sambil nyengir. "Uda nggapapa. Ayuklah, keburu magrib." Luna menanggapi omelan Diana sambil lalu dan langsung naik ke atas motor. Mereka menyusuri jalanan yang sedikit basah dan berhenti sejenak untuk membeli martabak.

Sesampainya di rumah Diana, Luna langsung pergi ke kamar Diana dan merebahkan diri di atas kasur. Rumah Diana memang lebih terasa seperti rumah yang sebenarnya untuk Luna. Semua anggota keluarga sahabatnya itu menyayanginya dan membuatnya merasa sangat nyaman. Ayah dan ibunya selalu terlihat akur dan selalu tertawa. Merekapun menganggap Luna seperti anak mereka sendiri. "Seandainya aja.." pikir Luna sedih. Diana yang melihat Luna tampak tidak semangat langsung meleparnya dengan bantal. "Ngapain lo? Melo lagi? Mikirin gossip yang lagi hot itu? Uda tenang aja ngga usah dipikirin. Manusia-manusia macem Kania itu, cuma manusia yang hidupnya ngga asik. Mereka pikir idup orang lain lebih menarik buat di omongin daripada idup mereka sendiri." Oceh Diana mencoba menghibur Luna. Luna menghela nafas panjang. "Engga Di, gue cuma capek." jawab Luna singkat. Seandainya saja hidup Luna semudah apa yang Diana ucapkan. Luna memang tidak pernah menceritakan masalah keluarganya ataupun mengungkapkan kegelisahannya, Luna juga tidak pernah membicarakan tentang masa lalu yang dialaminya saat iya masih kecil terhadap siapapun termasuk Diana sahabatnya. Menurutnya, berbagi kesedihan kepada orang lain cuma menambah beban orang tersebut.

Luna beranjak dari kasur saat Diana sedang asik makan martabak yang mereka beli dalam perjalanan. Lunapun mengambil gitar yang ada di dekatnya sambil bersenandung lirih. Buku-buku yang dibawanya ia geletakan di lantai kamar Diana. Ditengah-tengah lagu Luna berhenti, "Di, elo pernah ngga sih, ngebayangin atau berharap kalo sebenernya elo tuh cuma anak pungut dan tiba-toiba orang tua kandung elo dateng buat ngambil elo?" Luna menyadari bahwa pertanyaan yang baru saja dia tanyakan kepada sahabatnya ini terdengar konyol. " Elo lagi sakit ya? Kumat lagi? Sinting lo ah!" jawab Diana sambil tertawa. Luna hanya tersenyum. Luna masih berusaha keras untuk tidak memikirkan apa yang terjadi terhadap orang tuanya ataupun gossip-gosip yang sedang beredar soal dirinya di sekolah. "Ya kan siapa tau elo ternyata anaknya Brad Pitt?" sanggah Luna cepat. "Terus nyokap gue Angelina Jolie gt? emang mirip? Emang sih gue mancung. Tapi ya ngga mungkinlah! Ngga usah ngaco lo ah.” Jawab Diana dengan tawa yang semakin menjadi. Mereka melanjutkan sore itu dengan candaan dan bergosip ala remaja seumuran mereka dan lupa akan tugas sekolah yang seharusnya mereka kerjakan. Luna sangat senang berlama-lama di kamar Diana, pikiran tentang masa lalunya dan keluarganya seakan-akan menghilang begitu saja.

Tiba-tiba candaan mereka terhenti oleh suara pesan yang tak henti-hentinya dari hape Diana. " Lun, nih si Dika 13x ngeWA gue nanyain elo dimana, di jawab nggak nih?" Tanya Diana dengan nada yang sedikit jengkel. "Iya udah jawab aja" Jawab Luna singkat. Dika adalah teman laki-laki Luna yang paling dekat setahun belakangan ini. Bahkan mungkin satu-satunya dalam hidup Luna. Iya, karena gosip-gosip itu juga Luna tidak pernah mempunyai pacar. Luna seakan trauma untuk hanya sekedar berteman dengan laki-laki. Tapi kegigihan dan perhatian yang Dika tunjukan membuat Luna sangat menyayangi Dika, baginya Dika adalah sosok laki-laki yang bisa menggantikan ayahnya. Karena Dika sangat protektif dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Luna. Dika bersekolah di SMA yang berbeda dengan Luna. Tiap harinya Dika selalu mengantar jemput Luna kemanapun Luna pergi. Terkadang, Lunapun merasa tidak enak dengan sikap Dika yang seperti itu, karena meskipun mereka dekat, Luna sudah puluhan kali menolak Dika. Bagi Luna Dika adalah seseorang yang terlalu berharga untuk dijadikan seorang pacar. Namun begitu, hubungan pertemanan mereka sangat-sangat harmonis. Luna merasa besyukur karena Dika tidak bersekolah di sekolah yang sama dengan Luna. Karena jika iya, belum tentu Dika mau berteman dengan Luna, atau bahkan menyukai Luna seperti sekarang ini. Sebenarnya Luna sendiri tidak yakin apakah Dika benar-benar tidak tau tentang gossip yang beredar di sekolah Luna mengenai dirinya. Pasalnya Dika cukup populer dikalangan antar SMA. Atau, Dika cuma pura-pura tidak tahu?

Selang beberapa saat, Dika sudah berada di depan rumah Diana. Buru-buru ia menelfon Diana. " Di, turunlah! Bukain pintu dong!" Diana mengangkat telfon sambil tersedak. “Ni orang bener-bener ngga bisa nyantai kalo ngomong sama gue.” gerutunya kesal. Diana yang sedang asik menghabiskan martabak yang memang tinggal sedikit langsung turun dari kamarnya untuk membukakan pintu. Merekapun bergegas menuju ke kamar Diana untuk menghapiri Luna. "Hey Lun, kok telfon gue ngga lo angkat sih?" Tanya Dika seketika itu juga. "Maaf Ka, gue tadi lagi asik nulis, terus gue ke rumah Diana dan gue lupa bawa hape." Jawab Luna. Dika tampak sedikit kesal, tapi apadaya, Dika memang paling tidak bisa marah dengan Luna, jadi Dika hanya mengangguk singkat. Keheningan yang canggung membawa Luna ke dalam lamunannya.

      "Mereka semua datang, sebagian datang untuk bersenang-senang. Dan sebagian untuk dikenang. Tapi aku? Apa aku pantas untuk sekedar dikenang?" 

"Eh kupret, elo ngapain nyariin si Luna? Ngga bisa apa ngga usah ngintilin dia sehari aja?" ujar Diana mencairkan suasana. "Kagak!" jawab Dika singkat. Dengan sigap Dika langsung merebahkan diri di kasur kamar Diana. Diana langsung melemparkan bantal ke muka Dika. "Dasar kebo! Mau numpang tidur aja pake alesan nyariin si Luna." Ceplos Diana sambil lalu. " Dikapun hanya mendengus malu mendengar ucapan Diana. Luna kembali tersenyun melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Luna selalu berpikir mereka berdua adalah sabahat terbaik yang Luna punya. Luna sendiri tidak tahu bagaimana dia bisa melalu hari-harinya jika kedua sahabatnya ini tidak berada disampingnya. Setidaknya, merekalah yang selalu ada pada saat-saat sulit hidup Luna. Dengan kehadiran mereka, Luna merasa siap menghadapi dunia yang saat ini memang sedang berjalan berlawanan dengannya. Paling tidak, karena merekalah Luna mulai berani sedikit berharap bahwa semuanya akan baik-baik pada akhirnya. Luna yang masih memegang gitar milik Diana mulai bersenandung lagi. Kali ini Luna menyanyikan lagu Jason Mraz, "Lucky". 

"Lucky I'm in love with my best friend. Lucky to have been where I have been. Lucky to be coming home again..
Ooh.. ooh.. ooh.. ohh.." 

Suara Luna memang lumayan bagus. Kedua sahabatnyapun ikut bersanandung dengan Luna. Mereka menghabiskan sisa sore itu dengan candaan dan nyanyian galau yang suka Luna lantunkan. Sesekali mereka bertepuk tangan untuk Luna saat ia menyelesaikan satu lagu. Luna merasa bahagia sekali sore itu. Senyum lebar terpasang diwajahnya. Sejenak, Luna bisa melupakan semua masalahnya.

“Tapi bagaimana dengan besok? Atau Lusa? Atau bahkan bagaimana dengan masa depanku nanti? Omongan mereka mana bisa ditarik lagi? Ahh… kupikirkan nanti saja.” Ujar Luna dalam hati.



-To Be Continued

Wednesday, November 14, 2018

Chapter four



Manusia itu rumit, banyak maunya. Sebagian dari mereka datang untuk bersenang-senang, dan sebagian lagi untuk dikenang. Kebanyakan dari mereka cuma menawarkan kebahagiaan sesaat.
Yang lainnya lagi datang untuk mencaci dan menyakiti. 
Derasnya hujan sore ini tak bisa menghapuskan prahara yang ada dalam hati manusia.
Aku masih menyusun kisah dalam mimpi meski aku terjaga. Ini bukan tentang mereka yang pernah menjadi figuran dalam kehidupanku, yang saat ini hanya tersisa beberapa, dan semuanya sedang asik memukulku dengan cerita masa lalu hingga aku mengaduh. 
Orang-orang itu, mereka asik sekali menilaiku. Hebat, seakan Tuhan telah memilih mereka menjadi asisten-Nya.
Kututup sejenak mataku, benar adanya, sesuatu yang indah kebanyakan adalah yang tidak terlihat.
Seperti jatuh cinta, kenangan, dan aroma khas orang-orang yang kita sayangi.
Kebahagiaan yang ditimbulkan oleh semua itu sungguh terasa nyata. Dan kebahagian yang sebenarnya ada saat mereka tau caranya bangkit saat mereka terjatuh, dan untuk mereka yang tersakiti, mereka yang telah dan tengah mencari, dan mereka yang telah mencoba. Karena merekalah yang bisa menghargai betapa pentingnya orang-orang yang telah membuat kehidupan mereka terasa lebih berarti.
Untukmu hatiku,
hati yang kuat meski ratusan kali kalian coba hancurkan, tenang saja, pada akhirnya Kamulah yang paling tau siapa dirimu. Dan kamulah yang paling mengerti caranya berbahagia yang sederhana, seperti mawar yang tak pernah mempropagandakan harum semerbaknya. -K



🌎 In your Right side, 2018


Being a human

Masalah yang timbul saat kita menjadi manusia yang kuat adalah kamu tidak boleh rapuh, jika sedikit saja kamu rapuh, kamu akah terlihat lemah dan orang-orang tidak akan memandangmu sebagai seseorang yang kuat lagi.
Namun, hey! kita ini manusia bukan?
Tidak apa terjatuh, jika kita tak tau caranya terbang.
Tidak apa berteriak, jika rasanya ingin menangis.
Tidak apa jika kita merasa sakit, karena ucapan mereka yang menghakimimu.
Tidak apa menangis sampai kamu tertidur, saat hatimu serasa dipatahkan.
Tidak apa merasa hancur, saat mereka meninggalkanmu.
Kamu tau? Cara yang paling baik untuk menjadi kuat dan dewasa bukanlah dengan menutupnya.
Menunjukan apa yang kamu rasakan, terjatuh, hancur, lalu bangkit, adalah satu-satunya cara untuk menjadi kuat dan dewasa.
Iya, karena kita cuma manusia.

🌎 in your arms, 2018. -K

Tuesday, November 6, 2018

Chapter three

Pagi ini hujan, yang aku suka darinya tentu saja baunya. Entah kenapa, harumnya hujan yang menyentuh tanah selalu membuatku campur aduk. Bahagia akan kehidupan dan sedih akan kenangan. Ya Allah sang pemilik semesta dan cinta, sungguh banyak dosaku. Namun apa yang kuperbuat? Bukannya menjemput hidayah tapi malah menghitung banyaknya luka yang mereka goreskan. 
Mereka yang berjanji untuk bersama, mereka yang berjanji untuk tak pernah saling melukai. Sungguh, janji manusia hanyalah omong kosong belaka. 
Bahkan saat aku mengingatnya, semesta alam terlihat menikmati untuk menertawakanku.
Teruntuk hati ini yang masih berharap, 
Bukankah melepaskan lebih baik daripada menggenggam sesuatu yang sudah tidak seiring?
Wahai kamu hati yang masih terluka,
Tuntunlah aku menjadi penghamba yang tak ragu menekuk lututku untuk mencari pengampunan dan pengharapan.  -K


🌎 Oxnard, CA. USA 2018

Friday, November 2, 2018

Chapter two

Pagi ini aku terjebak dalam kedamaian fatamorganaku. Masih tentang cerita yang sama, bukan! Aku tidak sedang mengeluhkan tentang menjadi dewasa.
Aku sedang menatap keluar jendela mobil dan melihat sekumpulan anak-anak TK, semesta ini terasa begitu adil saat aku melihat mereka. Begitu menyenangkannya menjadi anak-anak.
Mereka tau persis bagaimana caranya menyusun kebahagian mereka sendiri. Kebahagian yang sederhana, kebahagian yang bisa menghipnotis orang-orang di sekitar mereka.
Ahhh... seandainya lagi, seandainya bahagia bisa sesederhana itu. Bermain dengan ayunan usang ataupun memakan pemen coklat.
Kembali lagi pada kita yang menjadi dewasa, apakah benar kita ini dewasa? Atau hanya menjadi tua dan tak berguna?
Menjadi tua dan mengeluh,
Menjadi tua dan menyesal,
Menjadi tua dan angkuh,
Banyak dari kita yang lupa caranya beryukur. Kita bilang kita beragama, tapi kita lupa kalau kita beraTuhan.
Sampailah pada saatnya aku tersentak untuk yang kesekian kalinya, rindu akan masa lalu hanyalah bagian dari cara kita untuk tidak bersyukur.

Untukmu yg kukira "sahabat" terbaikku,
Selamat menjadi dewasa, terima kasih telah menjadi bagian dari masa laluku dan secara tidak langsung mengajariku untuk lebih realistis. Yang abadi bukan kenangan, karena orang bisa lupa. Sepertimu yang mungkin sedang lupa. -K

🌎 Santa Cruz, CA. USA 2018

Thursday, November 1, 2018

Things

There are things that we can have but we can't keep. Something that we can see but we can't touch. Things that we can feel but we can't see. -K

Chapter one


Mentari itu datang begitu saja, ia selalu menepati janjinya tanpa diminta.
Untuk kalian yang sedang terluka, mari kita bercerita.
Namaku senja, di suatu pagi yang kelabu, renunganku membuatku terbuai dalam kenangan masa kecilku. Sebagian kecil diriku merindukannya, tapi bagian yang lainnya begitu ingin melupakannya.
Akupun menyadari, bahwa menjadi dewasa bukanlah sesuatu yang begitu menyenangkan.
Rinduku untuknya, untuk mereka, biar aku saja yang merasa. Tak apa. Terkadang hidup memang memihak pada satu sisi saja.
Iya, aku memang sedang rindu. Aku rindu akan tawa, aku rindu akan pertengkaran kecil, aku rindu akan kepedulian, aku rindu akan mimpi yang pernah disusun di antara puing-puing yang pernah menusuk tepat di hatiku. Hati yang hebat, karena setelah itu dia bisa kembali terakit meskipun lukanya masih terlihat jelas.
Sampai pada akhirnya aku menyadari, bukan kita yang berubah, tapi waktu. Kecewa? Tentu saja, tapi itu salahku. Salahku yang terlalu berharap. Bukankah rasa kecewa itu datang karena kita terlalu berharap? "Tak apa." Kataku. Hati ini masih hebat.
Sudah ya, mungkin besok sudah tidak rindu.
---untukmu yang kukira "sahabat" terbaikku.
-K



🌎 Santa Cruz, CA. USA 2018

Chapter thirteen

There was a time when i thought everything was gonna last forever and everything was always gonna be ok. Just when i thought the story...