"Lunaaaa... bangun! kamu ngga sholat subuh?" saat itu
pukul 05.00 pagi. Teriakan ibu Luna yang cukup keras membuat Luna terbangun
dari mimpinya. Mimpinya indah, semuanya bersama, ada ayah dan ibunya, ada Luna
dan adik perempuannya sedang pergi ke taman hiburan yang dulu pernah mereka
lakukan saat usia Luna 7 tahun. "Iya bu, Luna bangu." Luna beranjak
dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi untuk wudhu dan setalh itu
bergegas untuk menunaikan sholat subuh. Doanya selalu sama, Luna ingin ayahnya
kembali.
Selesai sholat dan berdoa, Luna duduk di pojok jendela kamarnya.
Di luar masih gelap. Matahari belum menampakan sinarnya. Sepi sekali diluar,
Luna hanya melihat beberapa tetangga yang sudah cukup tua berjalan pulang dari
arah masjid. "Kalau memang benar Tuhan itu ada, tolong kabulkan doaku
sekali aja." Gumam Luna pada dirinya sendiri. Matahari sudah mulai tampak,
tanpa sadar sudah 1 jam Luna duduk di dekat jendela. Kebiasaan Luna yang lain
adalah, Luna bisa duduk berjam-jam dan tidak melakukan apapun di pojok kamarnya
itu. Luna menengok ke arah jam dinding, sudah jam 6 tepat. Luna tersontak dari
lamunannya dan segera bersiap-siap untuk ke sekolah.
Luna bergegas turun untuk sarapan bersama adiknya dan berpamitan
kepada ibunya yang sudah siap untuk berangkat kerja. Seperti biasanya, Dika
sudah menggu Luna di depan pagar untuk mengantar Luna ke sekolah. Di dalam
perjalanan, Luna dan Dika tidak terlalu banyak bicara. Jantung Luna berdegup
kencang, dia tidak pernah setakut ini untuk pergi ke sekolah. Memang, gossip
yang beredar soal Luna ini sudah cukup lama, tapi entah kenapa, perasaan Luna
kali ini sungguh berbeda dari biasanya setelah pertemuannya yang terakhir
dengan ayahnya dan berakhir dengan Luna juga bertemu dengan Jojo, Kania dan Akbar
di sebuah mall. Luna takut dengan apa yang akan terjadi, Luna takut jika gossip
tentangnya bertambah parah. Luna takut mendengar gossip itu langsung di
telinganya. Luna takut dengan tatapan merendahkan dari teman-teman sekelasnya.
Semua pikiran itu bergejolak di kepala Luna. Tanpa Luna sadari, akhirnya Luna
sampai disekolahnya. "Lun, uda sampe nih. Elo ngga turun?" Tanya
Dika. "Eh iya, uda sampe ya? Makasih ya Ka. Sampe nanti." Jawab Luna
sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Dika mengambil helm yang disodorkan Luna, lalu pergi sambil
tersenyum balik kepada Luna.
"This is it! Aku harus
bisa ngadepin hal sepele macem ini." Kata Luna pada dirinya sendiri. Luna
melangkah menuju kelasnya. Sudah seperti yang Luna duga, orang-orang
disekeliling Luna menatapnya dengan pandangan yang lebih merendahkan dari biasanya. Bahkan sebagian
dari mereka malah terang-terangan meneriakinya. "Cieee.. tas baru ya Lun,
dapet dari om-om yang kemaren?" Ejek Jojo sambil tertawa bersama
teman-temannya. Jojo adalah salah satu teman sekelas Luna yang tidak sengaja
bertemu di mall saat Luna sedang bersama ayahnya. Luna hanya menunduk dan
berjalan lebih cepat ke kelasnya. Sesampainya di kelas, Luna menaruh tasnya di
bangku pojok paling depan yang dekat dengan pintu. Luna tidak punya teman
sebangku, karena itu dia langsung berlari menuju kelas sebelah untuk
menghampiri Diana. Luna hanya berani mengintip dari luar kelas untuk mencari Diana.
"Di, sahabat tersayang elo tuh nyariin. Kok elo masih mau sih temenan sama
dia?" Tanya salah satu teman sekelas Diana. "Diem lo! Brisik amat
ngurusin urusan orang." Tukas Diana ketus sambil berjalan keluar kelas untuk menghampiri Luna.
Luna yang ada tepat di luar kelas tentu saja bisa mendengar jelas apa yang teman sekelas
Diana ucapkan tentang dirinya. Tanpa sadar, air mata Luna mengalir.
"Jangan Lun, jangan disini." kata Luna pada dirinya sendiri. Diana
yang sudah berada di sampingnya langsung menariknya pergi menuju ke kamar mandi
anak perempuan. Mereka langsung masuk ke dalam toilet kosong dan seketika Lunapun menangis lebih kencang. Diana
memeluknya erat. "Lun, udah. Elo itu cewe yang kuat. Ngga usah
dipikirinlah. Kan ada gue. Gue bakal selalu ada buat elo." Luna hanya
mengangguk sambil masih sesenggukan. Akhirnya Luna menceritakan apa yang Jojo
katakan kepadanya saat baru saja sampai di sekolah pagi ini terhadap
Diana. "Elo mending lapor aja deh ke guru BK Gue temenin. Kalo perlu
gue bantuin ngomong. Manusia-manusia kurang kerjaan macam mereka emang mesti
dikasih pelajaran." Saran Diana kepada Luna. Butuh waktu sekitar 20 menit
untuk meyakinkan Luna untuk mau pergi menemui guru BK.
Luna dan Diana tidak kembali ke kelas mereka. Mereka pergi untuk
menemui guru BK. Setalah menunggu selama 10 menit akhirnya Pak Teguh
menghampiri mereka. Pak Teguh adalah guru konseling anak-anak kelas 2,
kepalanya botak dan terlihat galak. Suaranya kencang setiap kali ia memanggil
murid yang ia dapati melanggar peraturan sekolah. Tak ada satu muridpun yang tak
takut dengannya. Kebanyakan dari mereka malah langsung putar balik ke arah
sebaliknya begitu melihat Pak Teguh dari kejauhan. Namun siapa sangka, ternyata
Pak Teguh sangat kebapakan saat muridnya datang ke ruang konseling untuk menemuinya. "Ada apa
ini Luna? Tidak biasanya kamu menemui bapak." Ujar pak Teguh sangat ramah.
Mata hitamnya memandang Luna dan Diana bergantian seakan sedang menebak-nebak
apa yang sedang terjadi.
Diana yang sudah tidak sabar menahan emosinya akhirnya
menceritakan apa yang di alami Luna pagi tadi. Tidak cuma itu, Diana juga
menceritakan soal gossip tentang Luna yang sudah tersebar beberapa bulan terkahir dan yang beberapa hari terakhir ini menjadi semakin parah. Iya, ini soal Luna yang dicap sebagai perempuan murahan, perempuan panggilan
yang biasa menemani laki-laki separuh baya. Pak Teguh mendengarkan cerita Diana
dengan seksama. Matanya tidak berkedip. Beliau juga tidak menyela sedikitpun.
Lunapun hanya terdiam sambil menangis. Setelah cerita Diana selesai,
keheningan menjalar di ruang konseling itu. Namun tiba-tiba Pak Teguh beranjak
dari tempat duduknya dan pergi tanpa sepatah katapun.
Selang beberapa saat, Pak Teguh kembali ke ruang konseling. Namun
beliau tidak sendirian, beliau bersama, Jojo, Kania dan Akbar. Tentu saja
mereka bertiga kaget melihat Luna dan Diana ada disana juga. Luna yakin, mereka bertiga tau persis kenapa mereka dipanggil keruang konseling. Mereka
bertiga duduk berhadapan dengan Luna dan Diana. Diana yang sudah menahan
emosinya dari tadi sekarang sudah mulai mengepal-ngepalkan tangannya. Luna yang
berusaha menahan tangis di depan mereka akhirnya meluapkan tangisannya juga. Bukan
karena Luna takut, tapi karena Luna sudah tidak bisa lagi menahan marah. Pak Teguh
yang berada di tengah-tengah mereka sedang sibuk mengrim pesan kepada seseorang
melalui telfon genggamnya. Semua murid yang ada diruang konseling tidak saling bertegur sapa ataupun berkata
sepatah kata. Semuanya hanya tertunduk dan memainkan jarinya masing-masing.
Pak Teguhlah yang mengambil inisiatif memecah keheningan itu. “
Jadi kalian bertiga tau kan, kenapa kalian saya panggil kemari?” tanyanya
terhadap Jojo, Kania dan Akbar. Mereka bertiga kompak menggelengkan kepalanya.
Luna dan Diana memandang mereka dengan kemarahan yang tidak bisa dilukiskan
lagi. Karena Jojo, Kania dan Akbar mengaku tidak mengerti kenapa mereka di
panggil keruang konseling, Pak Teguhpun menjelaskan kepada mereka bertiga alasan
kenapa mereka dipanggil ke ruang konseling. Beliaupun memborbardir mereka
dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama sekali tidak ada yang mereka jawab.
Karena sikap mereka bertiga yang tidak kooperatif tersebut, akhirnya Pak Teguh
mengambil tindakan lain. Beliau lagi-lagi berjalan keluar ruangan dengan diam.
Ruang Konseling masih saja hening, Luna mengeggam tangan Diana dan
memberinya kode suapaya Diana tidak bertindak ceroboh saat Pak Teguh sedang
tidak ada. Dan beberapa saat kemudian, Pak Teguh kembali bersama orang-orang
yang membuat Luna dan murid lainnya kaget dan cemas. Mereka adalah ayah dan ibu
Luna, serta ibu Kania yang bekerja sebagai guru ekonomi di sekolah mereka. Luna
duduk terpaku, kakinya tidak bisa digerakan. Mulutnya terasa di kunci
rapat-rapat. Bukan kedatangan orang tuanya yang Luna takutkan. Tapi, selama ini
Luna selalu sembunyi-sembunyi untuk bertemu ayahnya. Ibunyapun tidak pernah
tau. Luna mulai takut membayangkan apa yang akan terjadi padanya dirumah nanti.
Setelah semuanya duduk, Pak Teguh mulai biacara lagi. Beliau
menjelaskan kembali apa yang terjadi dan di alami Luna di sekolah beberapa
bulan terakhir ini. Semuanya diam dan mendengarkan beliau dengan seksama. Sampai
pada akhirnya Pak Teguh bertanya kepada Jojo, Kania dan Akbar, “Jadi ini adalah
ayah Luna yang mungkin kalian liat di mall bersama Luna beberapa hari yang lalu
dan mungkin beberapa bulan yang lalu juga. Apakah benar beliau orangnya?”
Ketiganya tidak ada yang berani melihat ke arah ayah Luna. Namun Kania yang
merasa sedikit aman karena ibunya ada disana mulai berani angkat bicara. “Ngga
tau Pak, lupa. Saya ngga terlalu jelas melihat mukanya waktu itu.” jawab Kania
dengan nada yang sangat menyebalkan. Luna yang sudah tidak mampu membendung
amarahnya mulai berteriak ke arah Kania. “Apa lo bilang? Ngga tau? Jelas –jelas
elo liat kan? Elo tau persis gimana muka bokap gue, Bokap gue juga pernah
nganterin elo pulang kerumah waktu kita satu SMP. Jahat banget ya elo sama gue,
salah apa sih gue sama elo?” Lunapun meluapkan emosinya dengan menangis lagi. Ibu
Luna yang ada di situ langsung beranjak dari tempat duduknya dan menhampiri
Luna untuk menenangkannya bersama Diana. Ayah Luna sendiri tidak berbuat apapun
pada saat itu. Setelah mendengar kata-kata Luna, Kania kembali menunduk dan
kembali memainkan jari-jari tangannya. Pak Teguhpun dengan sigap menanggapi
pernyataan Luna dan bertanya kepada Kania kebenarnya. Kania hanya mengangguk
kecil. Semua yang ada diruangan itu memandang ke arah Kania. Melihat anggukan
Kania, Pak Teguh langsung menyuruh Kania, Jojo dan Akbar untuk minta maaf
terhadap Luna. “Maaf? Udah? Mereka pikir
minta maaf di dalem ruangan konseling bisa ngerubah pemikiran orang-orang di
luar sana soal aku?” Luna menggerutu dalam hati. Dengan terpaksa iapun
menjabat tangan mereka bertiga. Pak Teguh juga mengungkapkan bahwa mereka
bertiga akan diberi sangsi, bahkan Kania bisa terancam diskros dari sekolah
karena ternyata dialah dalang yang menyebarkan isu tentang Luna. Ibu Kania yang
mendengar anaknya hendak di skros langsung keluar ruangan dengan wajah yang
sangat marah. Sesaat setelah Pak Teguh membuat keputusan tersebut, Pak Teguh
mempersilahkan Jojo, Kania dan Akbar mengemasi tas mereka dan pulang kerumah
karena mereka harus langsung menjalai hukuman. Sedangkan Luna diijinkan pulang
bersama orang tuanya untuk menenangkan diri. Dan Diana bisa kembali ke kelasnya
untuk mengikuti pelajaran.
Sesampainya Luna dan kedua orang tuanya di depan gerbang, Lunapun
berinisiatif untuk langsung menuju ke arah mobil ibunya yang diparkir di depan
sekolah. Lunapun juga tidak berkata sepatah katapun kepada ayahnya yang memang
langsung meninggalkan Luna bersama ibunya. Di dalam mobil, ibu Luna membrondong
Luna dengan pertanyaan-pertanyaan soal ayahnya. Lunapun tidak menjawab ibunya
dan hanya terdiam sepanjang perjalanan pulang.
Dirumah, ibu yang tadinya terlihat baik-baik saja dan tenang di
sekolah sambil memeluk Luna, sekarang terlihat sangat marah. “Luna, tunggu
dulu! jadi selama ini kamu masih ketemu sama ayah kamu diem-diem?” tanya ibunya
dengar suara sedikit bergetar. Luna yang tadinya bermaksud untuk langsung naik
ke kamarnya, tiba-tiba berhenti dan membalikan badan sambil mengangguk pelan. “Kamu
tau kenapa ibu selalu larang kamu buat ketemu ayah kamu? Karena setiap kali
kamu ketemu dengan ayah kamu, emosi kamu jadi ngga sstabil. Kamu mau balik lagi
ke psikiater? Asal kamu tau ya, ayah kamu itu di luar sana berkoar-koar kalau
ibu kamu ini menjual kamu ke pengacara ibu. Dia pikir ibu ngga bisa bayar
pengacara, makanya ibu jual kamu. Ibu sakit Luna, ibu ngga mau ayah kamu
merusak masa depan kamu.” Ibu Lunapun berbicara sambil menangis. Hati Luna
mencelos mendengar cerita ibunya. Hatinya sakit sekali. Untuk kedua kalinya,
hati Luna hancur. Luna berlari ke atas menuju kamarnya dan duduk di pojok dekat
jendela sambil memandang keluar. Air matanya tak henti-hentinya mengalir. “Kenapa ayah? Kenapa ayah tega ngomong kaya
gitu tentang Luna? Ayah bilang Ayah sayang sama Luna. Ayah bohong! Pembohong! Sama
seperti yang lainnya.” Lunapun menangis sampai akhirnya dia tertidur, di
pojok jendala kamarnya. Tempat favoritnya.
“There
are things that we can have but we can’t keep. Something that we can see but we
can’t touch. Things that we can feel but we can’t see. –K”
-To be Continued
No comments:
Post a Comment