Friday, November 16, 2018

Luna yang Kuat (chapter 2)

"Lunaaaa... bangun! kamu ngga sholat subuh?" saat itu pukul 05.00 pagi. Teriakan ibu Luna yang cukup keras membuat Luna terbangun dari mimpinya. Mimpinya indah, semuanya bersama, ada ayah dan ibunya, ada Luna dan adik perempuannya sedang pergi ke taman hiburan yang dulu pernah mereka lakukan saat usia Luna 7 tahun. "Iya bu, Luna bangu." Luna beranjak dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi untuk wudhu dan setalh itu bergegas untuk menunaikan sholat subuh. Doanya selalu sama, Luna ingin ayahnya kembali. 

Selesai sholat dan berdoa, Luna duduk di pojok jendela kamarnya. Di luar masih gelap. Matahari belum menampakan sinarnya. Sepi sekali diluar, Luna hanya melihat beberapa tetangga yang sudah cukup tua berjalan pulang dari arah masjid. "Kalau memang benar Tuhan itu ada, tolong kabulkan doaku sekali aja." Gumam Luna pada dirinya sendiri. Matahari sudah mulai tampak, tanpa sadar sudah 1 jam Luna duduk di dekat jendela. Kebiasaan Luna yang lain adalah, Luna bisa duduk berjam-jam dan tidak melakukan apapun di pojok kamarnya itu. Luna menengok ke arah jam dinding, sudah jam 6 tepat. Luna tersontak dari lamunannya dan segera bersiap-siap untuk ke sekolah.

Luna bergegas turun untuk sarapan bersama adiknya dan berpamitan kepada ibunya yang sudah siap untuk berangkat kerja. Seperti biasanya, Dika sudah menggu Luna di depan pagar untuk mengantar Luna ke sekolah. Di dalam perjalanan, Luna dan Dika tidak terlalu banyak bicara. Jantung Luna berdegup kencang, dia tidak pernah setakut ini untuk pergi ke sekolah. Memang, gossip yang beredar soal Luna ini sudah cukup lama, tapi entah kenapa, perasaan Luna kali ini sungguh berbeda dari biasanya setelah pertemuannya yang terakhir dengan ayahnya dan berakhir dengan Luna juga bertemu dengan Jojo, Kania dan Akbar di sebuah mall. Luna takut dengan apa yang akan terjadi, Luna takut jika gossip tentangnya bertambah parah. Luna takut mendengar gossip itu langsung di telinganya. Luna takut dengan tatapan merendahkan dari teman-teman sekelasnya. Semua pikiran itu bergejolak di kepala Luna. Tanpa Luna sadari, akhirnya Luna sampai disekolahnya. "Lun, uda sampe nih. Elo ngga turun?" Tanya Dika. "Eh iya, uda sampe ya? Makasih ya Ka. Sampe nanti." Jawab Luna sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Dika mengambil helm yang disodorkan Luna, lalu pergi sambil tersenyum balik kepada Luna.

"This is it! Aku harus bisa ngadepin hal sepele macem ini." Kata Luna pada dirinya sendiri. Luna melangkah menuju kelasnya. Sudah seperti yang Luna duga, orang-orang disekeliling Luna menatapnya dengan pandangan yang lebih merendahkan dari biasanya. Bahkan sebagian dari mereka malah terang-terangan meneriakinya. "Cieee.. tas baru ya Lun, dapet dari om-om yang kemaren?" Ejek Jojo sambil tertawa bersama teman-temannya. Jojo adalah salah satu teman sekelas Luna yang tidak sengaja bertemu di mall saat Luna sedang bersama ayahnya. Luna hanya menunduk dan berjalan lebih cepat ke kelasnya. Sesampainya di kelas, Luna menaruh tasnya di bangku pojok paling depan yang dekat dengan pintu. Luna tidak punya teman sebangku, karena itu dia langsung berlari menuju kelas sebelah untuk menghampiri Diana. Luna hanya berani mengintip dari luar kelas untuk mencari Diana. "Di, sahabat tersayang elo tuh nyariin. Kok elo masih mau sih temenan sama dia?" Tanya salah satu teman sekelas Diana. "Diem lo! Brisik amat ngurusin urusan orang." Tukas Diana ketus sambil berjalan keluar kelas untuk menghampiri Luna. Luna yang ada tepat di luar kelas tentu saja bisa mendengar jelas apa yang teman sekelas Diana ucapkan tentang dirinya. Tanpa sadar, air mata Luna mengalir. "Jangan Lun, jangan disini." kata Luna pada dirinya sendiri. Diana yang sudah berada di sampingnya langsung menariknya pergi menuju ke kamar mandi anak perempuan. Mereka langsung masuk ke dalam toilet kosong dan seketika Lunapun menangis lebih kencang. Diana memeluknya erat. "Lun, udah. Elo itu cewe yang kuat. Ngga usah dipikirinlah. Kan ada gue. Gue bakal selalu ada buat elo." Luna hanya mengangguk sambil masih sesenggukan. Akhirnya Luna menceritakan apa yang Jojo katakan kepadanya saat baru saja sampai di sekolah pagi ini terhadap Diana. "Elo mending lapor aja deh ke guru BK Gue temenin. Kalo perlu gue bantuin ngomong. Manusia-manusia kurang kerjaan macam mereka emang mesti dikasih pelajaran." Saran Diana kepada Luna. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk meyakinkan Luna untuk mau pergi menemui guru BK.

Luna dan Diana tidak kembali ke kelas mereka. Mereka pergi untuk menemui guru BK. Setalah menunggu selama 10 menit akhirnya Pak Teguh menghampiri mereka. Pak Teguh adalah guru konseling anak-anak kelas 2, kepalanya botak dan terlihat galak. Suaranya kencang setiap kali ia memanggil murid yang ia dapati melanggar peraturan sekolah. Tak ada satu muridpun yang tak takut dengannya. Kebanyakan dari mereka malah langsung putar balik ke arah sebaliknya begitu melihat Pak Teguh dari kejauhan. Namun siapa sangka, ternyata Pak Teguh sangat kebapakan saat muridnya datang ke ruang konseling untuk menemuinya. "Ada apa ini Luna? Tidak biasanya kamu menemui bapak." Ujar pak Teguh sangat ramah. Mata hitamnya memandang Luna dan Diana bergantian seakan sedang menebak-nebak apa yang sedang terjadi. 

Diana yang sudah tidak sabar menahan emosinya akhirnya menceritakan apa yang di alami Luna pagi tadi. Tidak cuma itu, Diana juga menceritakan soal gossip tentang Luna yang sudah tersebar beberapa bulan terkahir dan yang beberapa hari terakhir ini menjadi semakin parah. Iya, ini soal Luna yang dicap sebagai perempuan murahan, perempuan panggilan yang biasa menemani laki-laki separuh baya. Pak Teguh mendengarkan cerita Diana dengan seksama. Matanya tidak berkedip. Beliau juga tidak menyela sedikitpun. Lunapun hanya terdiam sambil menangis. Setelah cerita Diana selesai,  keheningan menjalar di ruang konseling itu. Namun tiba-tiba Pak Teguh beranjak dari tempat duduknya dan pergi tanpa sepatah katapun.

Selang beberapa saat, Pak Teguh kembali ke ruang konseling. Namun beliau tidak sendirian, beliau bersama, Jojo, Kania dan Akbar. Tentu saja mereka bertiga kaget melihat Luna dan Diana ada disana juga. Luna yakin, mereka bertiga tau persis kenapa mereka dipanggil keruang konseling. Mereka bertiga duduk berhadapan dengan Luna dan Diana. Diana yang sudah menahan emosinya dari tadi sekarang sudah mulai mengepal-ngepalkan tangannya. Luna yang berusaha menahan tangis di depan mereka akhirnya meluapkan tangisannya juga. Bukan karena Luna takut, tapi karena Luna sudah tidak bisa lagi menahan marah. Pak Teguh yang berada di tengah-tengah mereka sedang sibuk mengrim pesan kepada seseorang melalui telfon genggamnya. Semua murid yang ada diruang konseling tidak saling bertegur sapa ataupun berkata sepatah kata. Semuanya hanya tertunduk dan memainkan jarinya masing-masing.

Pak Teguhlah yang mengambil inisiatif memecah keheningan itu. “ Jadi kalian bertiga tau kan, kenapa kalian saya panggil kemari?” tanyanya terhadap Jojo, Kania dan Akbar. Mereka bertiga kompak menggelengkan kepalanya. Luna dan Diana memandang mereka dengan kemarahan yang tidak bisa dilukiskan lagi. Karena Jojo, Kania dan Akbar mengaku tidak mengerti kenapa mereka di panggil keruang konseling, Pak Teguhpun menjelaskan kepada mereka bertiga alasan kenapa mereka dipanggil ke ruang konseling. Beliaupun memborbardir mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama sekali tidak ada yang mereka jawab. Karena sikap mereka bertiga yang tidak kooperatif tersebut, akhirnya Pak Teguh mengambil tindakan lain. Beliau lagi-lagi berjalan keluar ruangan dengan diam.

Ruang Konseling masih saja hening, Luna mengeggam tangan Diana dan memberinya kode suapaya Diana tidak bertindak ceroboh saat Pak Teguh sedang tidak ada. Dan beberapa saat kemudian, Pak Teguh kembali bersama orang-orang yang membuat Luna dan murid lainnya kaget dan cemas. Mereka adalah ayah dan ibu Luna, serta ibu Kania yang bekerja sebagai guru ekonomi di sekolah mereka. Luna duduk terpaku, kakinya tidak bisa digerakan. Mulutnya terasa di kunci rapat-rapat. Bukan kedatangan orang tuanya yang Luna takutkan. Tapi, selama ini Luna selalu sembunyi-sembunyi untuk bertemu ayahnya. Ibunyapun tidak pernah tau. Luna mulai takut membayangkan apa yang akan terjadi padanya dirumah nanti.

Setelah semuanya duduk, Pak Teguh mulai biacara lagi. Beliau menjelaskan kembali apa yang terjadi dan di alami Luna di sekolah beberapa bulan terakhir ini. Semuanya diam dan mendengarkan beliau dengan seksama. Sampai pada akhirnya Pak Teguh bertanya kepada Jojo, Kania dan Akbar, “Jadi ini adalah ayah Luna yang mungkin kalian liat di mall bersama Luna beberapa hari yang lalu dan mungkin beberapa bulan yang lalu juga. Apakah benar beliau orangnya?” Ketiganya tidak ada yang berani melihat ke arah ayah Luna. Namun Kania yang merasa sedikit aman karena ibunya ada disana mulai berani angkat bicara. “Ngga tau Pak, lupa. Saya ngga terlalu jelas melihat mukanya waktu itu.” jawab Kania dengan nada yang sangat menyebalkan. Luna yang sudah tidak mampu membendung amarahnya mulai berteriak ke arah Kania. “Apa lo bilang? Ngga tau? Jelas –jelas elo liat kan? Elo tau persis gimana muka bokap gue, Bokap gue juga pernah nganterin elo pulang kerumah waktu kita satu SMP. Jahat banget ya elo sama gue, salah apa sih gue sama elo?” Lunapun meluapkan emosinya dengan menangis lagi. Ibu Luna yang ada di situ langsung beranjak dari tempat duduknya dan menhampiri Luna untuk menenangkannya bersama Diana. Ayah Luna sendiri tidak berbuat apapun pada saat itu. Setelah mendengar kata-kata Luna, Kania kembali menunduk dan kembali memainkan jari-jari tangannya. Pak Teguhpun dengan sigap menanggapi pernyataan Luna dan bertanya kepada Kania kebenarnya. Kania hanya mengangguk kecil. Semua yang ada diruangan itu memandang ke arah Kania. Melihat anggukan Kania, Pak Teguh langsung menyuruh Kania, Jojo dan Akbar untuk minta maaf terhadap Luna. “Maaf? Udah? Mereka pikir minta maaf di dalem ruangan konseling bisa ngerubah pemikiran orang-orang di luar sana soal aku?” Luna menggerutu dalam hati. Dengan terpaksa iapun menjabat tangan mereka bertiga. Pak Teguh juga mengungkapkan bahwa mereka bertiga akan diberi sangsi, bahkan Kania bisa terancam diskros dari sekolah karena ternyata dialah dalang yang menyebarkan isu tentang Luna. Ibu Kania yang mendengar anaknya hendak di skros langsung keluar ruangan dengan wajah yang sangat marah. Sesaat setelah Pak Teguh membuat keputusan tersebut, Pak Teguh mempersilahkan Jojo, Kania dan Akbar mengemasi tas mereka dan pulang kerumah karena mereka harus langsung menjalai hukuman. Sedangkan Luna diijinkan pulang bersama orang tuanya untuk menenangkan diri. Dan Diana bisa kembali ke kelasnya untuk mengikuti pelajaran.

Sesampainya Luna dan kedua orang tuanya di depan gerbang, Lunapun berinisiatif untuk langsung menuju ke arah mobil ibunya yang diparkir di depan sekolah. Lunapun juga tidak berkata sepatah katapun kepada ayahnya yang memang langsung meninggalkan Luna bersama ibunya. Di dalam mobil, ibu Luna membrondong Luna dengan pertanyaan-pertanyaan soal ayahnya. Lunapun tidak menjawab ibunya dan hanya terdiam sepanjang perjalanan pulang.

Dirumah, ibu yang tadinya terlihat baik-baik saja dan tenang di sekolah sambil memeluk Luna, sekarang terlihat sangat marah. “Luna, tunggu dulu! jadi selama ini kamu masih ketemu sama ayah kamu diem-diem?” tanya ibunya dengar suara sedikit bergetar. Luna yang tadinya bermaksud untuk langsung naik ke kamarnya, tiba-tiba berhenti dan membalikan badan sambil mengangguk pelan. “Kamu tau kenapa ibu selalu larang kamu buat ketemu ayah kamu? Karena setiap kali kamu ketemu dengan ayah kamu, emosi kamu jadi ngga sstabil. Kamu mau balik lagi ke psikiater? Asal kamu tau ya, ayah kamu itu di luar sana berkoar-koar kalau ibu kamu ini menjual kamu ke pengacara ibu. Dia pikir ibu ngga bisa bayar pengacara, makanya ibu jual kamu. Ibu sakit Luna, ibu ngga mau ayah kamu merusak masa depan kamu.” Ibu Lunapun berbicara sambil menangis. Hati Luna mencelos mendengar cerita ibunya. Hatinya sakit sekali. Untuk kedua kalinya, hati Luna hancur. Luna berlari ke atas menuju kamarnya dan duduk di pojok dekat jendela sambil memandang keluar. Air matanya tak henti-hentinya mengalir. “Kenapa ayah? Kenapa ayah tega ngomong kaya gitu tentang Luna? Ayah bilang Ayah sayang sama Luna. Ayah bohong! Pembohong! Sama seperti yang lainnya.” Lunapun menangis sampai akhirnya dia tertidur, di pojok jendala kamarnya. Tempat favoritnya.


There are things that we can have but we can’t keep. Something that we can see but we can’t touch. Things that we can feel but we can’t see. –K”



-To be Continued


No comments:

Post a Comment

Chapter thirteen

There was a time when i thought everything was gonna last forever and everything was always gonna be ok. Just when i thought the story...