Rumah sudah sepi saat Luna terbangun dan bergegas untuk
bersiap-siap ke sekolah. Ibunya sudah pergi ke kantor, dan Rara adiknya sudah
pergi ke sekolah.
Luna sudah terbiasa dengan suasana rumah yang dingin, ini tidak kali pertama
Luna ribut dengan ibunya soal pertemuan diam-diamnya dengan ayahnya. Ibunya
bahkan bisa mendiamkan Luna selama berhari-hari dan tidak mengajaknya bicara
saking marahnya. Namun Luna sudah bertekad untuk meminta maaf kepada ibunya
nanti sore.
Dan seperti hari-hari yang lainnya, meskipun Luna sedikit
terlambat karena bangun kesiangan, Dika sudah menunggu Luna di depan pagar
rumahnya untuk mengantarnya ke sekolah. Diperjalanan, mereka tidak saling
bicara. Luna rasa, Dika susah tau apa yang terjadi kemarin dari Diana, karena
Dika sendiripun tidak berani memulai percakapan. Sesampainya di gerbang
sekolah, Luna dan Dika hanya bertukar senyum sebelum akhirnya Dika meninggalkan
Luna. Luna berdiri terpaku di depan gerbang sekolahnya selama beberapa menit,
memandang kosong ke arah palang nama sekolahnya yang
besar. "Aku harus bisa." ucapnya pada dirinya sendiri.
Luna melangkah mantap menuju kelasnya. Tidak seperti kemarin,
pandangan-pandangan merendahkan yang datang dari penjuru sekolah sedikit
berkurang. Beberapa orang bahkan melemparkan senyum ke Luna. Dan banyak pula
yang mulai bertanya pada Luna sebenarnya apa yang terjadi kemarin. Tentu saja
semua murid disekolah sudah tahu apa yang terjadi, namun mereka ingin mendengar
versinya langsung dari Luna. Luna tidak berkata apapun, dia hanya tersenyum
kepada mereka. Luna tahu betul bahwa mereka semua tidak benar-benar perduli,
mereka hanya sekelompok orang yang ingin tahu dan senang mengumpulkan cerita
untuk bahan bergossip.
Luna sedang melamun di bangku kelasnya sambil menatap keluar.
Betapa kagetnya Luna ketika ia melihat Kania, Jojo dan Akbar melenggang dengan
santai menuju kelasnya. Teman-teman mereka langsung saja mengerubungi mereka
dan memberondong mereka dengan pertanyaan seputar kejadian kemarin. Melihat
kejadian itu, Luna buru-buru mengambil handphone dan headsetnya dan langsung
memutar musik kesukaannya. Dibukanya buku geografi miliknya. Tentu saja Luna
tidak benar-benar sedang membacanya. Pikirannya tertuju kepada Kania, Jojo dan
Akbar. Bagaimana bisa mereka ke sekolah dengan santai dan menebar senyuman?
"Pak Teguh bilang kalau mereka akan disekors. Tapi.. tapi.. kenapa? Ah..
sudahlah. Seharusnya aku tidak berharap." Ujar Luna dalam hati. Luna
berkaca-kaca. Tentu saja, Luna mengira paling tidak dia bisa mendapatkan
keadilan, tapi kenyataannya Luna hanya mendapatkan kekecewaan yang lain.
"We get hurt because we love someone too much, we hoping too
high, and we dreaming too often."
Sepanjang hari Luna sama sekali tidak bisa berkonsentrasi dengan
pelajarannya.
Bel yang menandakan jam istirahat bordering kencang. Murid-murid
berhamburan keluar kelas dan menuju ke kantin. Namun tidak dengan Luna, dia
masih menatap kosong kolong mejanya. Sesekali, ia menusap air matanya. Luna
juga tidak menyadari bahwa Diana sudah duduk di sampingnya, mengamatinya, namun
tidak berkata apa-apa. Diana mengelus pundak Luna dan membuatnya tersentak.
Luna menatap balik Diana dan memeluknya sembari menahan tangis. Ruang kelas
yang kosong itu membuat Luna menjadi lebih nyaman untuk meluapkan kesedihannya
kepada Diana. “ Gue tau yang elo rasain Lun, sorry gue ngga bisa bantu lo
apa-apa.” Ucap Diana. Luna mengangguk lirih.
Karena
luka tak mungkin bisa hilang, setidaknya bantu aku untuk melupakan.
Jikalau
engkau merasa lelah, tekuklah lututmu dan jadilah si penghamba dihadapan
Tuhanmu. Karena yang kekal bukanlah harga diri, namun amal dan baktimu kepada
Ilahi.
.
.
.
.
.
Setelah sekolah usai, Luna, Diana dan Dika tidak langsung pulang
ke rumah, mereka mampir ke sebuah kafe di dekat sekolah untuk sekedar
berbincang dan menghibur Luna. Seperti biasa, Luna memesan coklat panas
kesukaannya, “Aku ngga ngerti, sebenernya apa yang harus aku lakuin sama
mereka. Pak Teguh bilang, mereka bakal diskores, tapi tadi mereka senyum-senyum
aja di sekolah?” ucap Luna tiba-tiba memecah keheningan. “ Aahh… gue yakin ni
kalau nyokap Kania ngelakuin sesuatu di belakang semuanya. Liat aja, gue bakal
cari tau.” Sambung Diana. Dika duduk di antara mereka dan tidak berkomentar
sedikitpun. Dika memang bukan tipe orang yang banyak bicara, tapi Luna tau,
kalau Dika juga sangat peduli terhadapnya. Mereka bertiga asik membicarakan
macam-macam dan itu membuat Luna melupakan sejenak kesedihannya.
Senja itu habis begitu saja, Luna dan kedua temannya beranjak dari
kafe dan mereka berpisah untuk pulang kerumah masing-masing. Luna tidak pulang
bersama Dika kali ini, karena Luna hanya ingin menghabiskan waktunya sendiri.
Dijalan, Luna kembali ke pikirannya yang dia lupakan sejenak tadi. Luna masih
tidak habis pikir, kenapa dunia terasa memusuhinya saat ini. Sekolah yang ia
kira bisa menjadi salah satu tempat untuknya melupakan keluh kesahnya di rumah
malah menambah kesedihannya.
Sesampainya dirumah, Luna melihat kendaraan ibunya sudah terparkir
di halaman rumah, menandakan jika ibunya sudah berada dirumah. Hati Luna
semakin kacau, tapi Luna tau, ia harus segera meminta maaf kepada ibunya. Dengan
sedikit rasa takut di benaknya, luna memberanikan diri untuk masuk ke rumah. “Assalamuallaikum..
“ kata Luna. “Walaikumssallam..” jawab ibu Luna singkat tanpa memandang kea rah
pintu untuk melihat siapa yang datang. Masih dengan rasa takut, Luna menghampiri
ibunya, “Bu, Luna minta maaf ya, kalau kemarin Luna ngga bilang sama ibu kalau
Luna ketemu sama ayah diam-diam.” ujar Luna. Ibu Luna menolehkan kepalanya
kearah Luna dan langsung memeluk Luna dengan erat sambil menangis. “Iya Luna,
ibu juga minta maaf kalau selama ini ibu ngga bisa jadi orang tua yang baik
buat Luna. Luna harus tau, alasan ibu melarang Luna untuk bertemu dengan ayah
Luna untuk menghindari hal-hal seperti ini. Dan ibu tidak mau melihat Luna
semakin sedih dan sakit.” Luna memeluk erat balik ibunya sambil menangis. “Sekarang
Luna mandi lalu istirahat ya. Jangan lupa sholat. Kalau Luna ada masalah di sekolah,
Luna bisa cerita ke ibu.” ujar sang ibu sembari mengelus kepala Luna. Luna
hanya mengangguk lalu ia langsung menuju ke kamarnya.
Luna merebahkan diri di kasur sebentar sebelum ia pergi mandi dan
bergegas untuk sholat magrib. Selesai melakukan keduanya, Luna meraih laptopnya
dan mulai membuka blognya.
Ada kalanya kita mengacuhkan Tuhan, menganggap semuanya akan
baik-baik saja meskipun kita pendosa
paling besar, karena Tuhan maha pemaaf.
Sebagian dari kita senang sekali berperan sebagai asisten
Tuhan, menikmati sekali tugasnya untuk menilai dan mengkritik sesamanya.
Sebagian yang lain senang menggurui. Menganggap dirinya yang
paling benar dan paling dekat dengan Tuhan.
Yang lain lagi, mempertanyakan adanya Tuhan, dimana, seperti
apa, kenapa, bagaimana bisa.
Dan tanpa kita sadari, kita sudah kehilangan Tuhan.
Bukan karena Tuhan meninggalkan kita, namun kita yang menjauh
dari-Nya.
.
.
.
.
.
Tulisannya terhenti di sajak, apakah sekarang ini
Luna sedang mempertanyakan Tuhan? Luna sendiri tidak tahu.
Lamunannya terhenti oleh suara pesan yang masuk
ke handphonenya. Pesan itu dari nomer yang tidak Luna kenal. Isinya “Ini bener nomer Luna? Berapa elo semalam? Mau
ngga tidur sama gue?” Membaca pesan itu, Luna tanpa sadar menjatuhkan
handphonenya, Luna tersungkur ke lantai dan menangis sejadi-jadinya. Saat itu
juga pesan tak henti-hentinya masuk. Dengan nomer yang berbeda-beda tetapi
semua isinya hampir sama. Luna sendiri tidak tahu bagaimana orang-orang itu
bisa mendapatkan nomernya. Sambil masih menangis Luna mengambil handphonenya
lalu langsung mematikannya. Fikirannya kalut, dan luna meraih silet yang ada di
meja riasnya, lalu mengiris pergelangan tangannya.
Ibu dan adik Luna yang mendengar tangisan Luna bergegas
menuju ke kamar Luna dan mendapati Luna yang tangannya sudah berdarah dan asmanya
yang mulai kambuh. Ibu Luna langsung membantu Luna untuk menghentikan
pendarahannya dan adiknya memberikan Luna inhaler. Berlahan, luna mulai
bernafas normal, ibu dan adiknya menatap luna dengan pandangan sedih. “Luna
kenapa lagi nak? Inget sama Allah nak. Jangan kaya gini lagi ya nak. Luna
cerita ke ibu kalau Luna sedih. Jangan ngelakuin hal-hal kaya gini lagi ya nak.”
kata ibu Luna sambil berlinang air mata. Luna hanya mengangguk, tatapannya
kosong, air mata tak henti-hentinya keluar dari matanya. Luna tidak berani
bilang ke ibu atau adiknya apa yang sebenarnya terjadi. Tentang semua pesan
yang ia terima malam itu. Luna tidak mau menambah beban ibunya. Luna terus menangis
sampai ia lelah dan tertidur, Dan malam itupun Luna tidur ditemani oleh ibu dan
adiknya.
-To be Continued