Thursday, January 24, 2019

Fatamorganaku, chapter 15


Ternyata perkara mengikhlaskan ini sedikit rumit. 
Seperti keharusan melupakanmu dan menjadikanmu prioritas utama dalam soal mencoba mengesampingkan rasa sakit yang kamu torehkan, lalu berusaha untuk tetap menjalani hidup seperti biasanya.
Aku sungguh minta maaf karena telah memilih untuk mencintaimu sedemikian rupa, mengacuhkan rasa ragu, bahkan mendongeng tentangmu pernah menjadi topik paling penting dikehidupanku.
Kamu tetaplah kamu, iya kan?
Fatamorganaku.
Kamu yang lebih memilih untuk mengisi ruang kosong di hati yang lain, sementara ruang kosong di hati ini menjadi sangat berdebu.
Tak apa. Kataku berkali-kali.
Seperti layaknya pertemuan yang lain, ternyata jatuh cinta padamu juga harus berkahir dengan perpisahan.
Aku pikir dengan mencintaimu layaknya aku akan kehilanganmu itu sudah cukup. Namun tidak, bahkan mencoba menggapaimu hingga aku tersungkurpun tidak cukup untukmu.

Rumah memang soal rasa, tapi aku bukan rumah bagimu. 
Aku tak sadar betapa brengseknya cinta memeperlakukanku.
Aku kira rinduku sudah habis, tapi nyatanya jari-jariku tak bisa berhenti menulis tentangmu.
Sajak-sajak ini sedang mengajariku untuk berjuang menahan rasa.

Jika nanti datang saatnya untuk aku terbangun dari ilusi fatamorganku, itu berarti aku sedang melihatmu bahagia, tanpa aku di dalamnya. -K




Tuesday, January 22, 2019

Chapter eight



Untukmu jiwa-jiwa yang tersakiti, 
maafkanlah dirimu sendiri karena telah membiarkan para figuran di kehidupanmu masuk ke dalam hatimu dan menghujammu dengan kekecewaan. 
Kamu terlalu berharga untuk mereka yang bahagia melihat air matamu.
Tanpa kita sadari, kita terlalu sibuk berjuang mendapatkan cinta sampai kita lupa seseorang yang telah mencinta kita.
Tidak percaya? cobalah keluar dari kamarmu saat sepertiga malam datang, kamu akan melihat ibumu menangis tersedu dan menekuk lututnya berjam-jam.
Tidak! Beliau tidak menangisimu, beliau sedang menghamba kepada Tuhannya untuk kebahagiaanmu.
Karena sebaik-baiknya doa adalah doa seorang ibu.
Bangkitlah saat kamu terjatuh, 
dan menangislah kepadaNya sang pemilik hati.
-K

Fatamorganaku, chapter 14




Hujan di bulan januari tak melunturkan indahnya senja sore itu. 
Aku yang terbuai pada indahnya fatamorgana tersentak karena tetesan rintik hujan yg menyentuh hidungku. 
Keindahan itu menjadi ironi ketika hati terasa sepi.
Aku yang telah mengabaikan banyaknya kejadian yang semesta ciptakan, terpaku pada pikiran tentangmu.
Kamu yang masih menjadi tema nomer satu yang tak pernah selesai untuk kuceritakan.
Masih ingat gerimis malam itu di bulan desember? 
Rasa itu tak pernah buyar seperti 7 tahun yang lalu. Debarannya masih sama saat melihat tawamu.
Pikiranku senang sekali menerjemahkan segalanya tentangmu, bahwa ternyata malaikat itu juga bisa menunjukan tawanya. 
Namun kamu memilih pergi dan mengacuhkanku. 
Ternyata hati ini tak cukup layak untuk kamu jadikan rumah. 
Aku pikir melupakanmu adalah suatu keharusan, tapi kenangan tentangmu sungguh tak tau diri. Mereka datang dan mengeroyokku begitu saja tak mau berhenti. sakit.

Jika mengikhlaskanmu berarti berjuang, maka aku akan berhenti berlari. 
Tenang saja, cari saja aku di dalam hati, aku tetap disana jika kamu mulai mencari lagi. 
-K

Thursday, January 17, 2019

Chapter seven


"Aku janji aku bakal nemenin kamu terus."
"Aku janji kita akan sama-sama trus."
"Aku janji kita bakal temenan sampe kita tua nanti."




"Kamu ngarepin apa sih?"
"Kamu banyak maunya!"
"Aku uda ngga tahan sama kamu!"

Pembohong!
Ketika orang-orang itu ramai-ramai menawarkan kebahagiaan.
Yang lainnya lagi menghilang dengan alasan-alasan tak masuk akal.

Hujan di bulan Januari, petrikor melambai-lambai ke arahku, seakan membiusku dengan aromanya yang khas.
Aku ini memang pemimpi ulung, semua yang ada dalam pikiranku terlalu naif.
Aku kira semua akan baik-baik saja ketika satu persatu dari mereka meninggalkanku.
Aku kira hati ini cukup kuat menopang rasa sakit yang silih berganti.
Aku kira kebahagiaan akan datang dengan sendirinya dan merangkulku dengan kehangatan suatu hari nanti.
Nyatanya?
Bangun!
Kenyataan menampar pipi kiri dan kananku setiap pagi.
Aku bukan lagi aku.

Pada akhirnya,
Kebahagianku tidak lagi penting.
Aku hanya ingin menjadi baik-baik saja.
Iya, baik-baik saja.
-K

Tuesday, January 15, 2019

Fatamorganaku, chapter 13


Kenapa sesuatu akan terlihat lebih indah jika kita memejamkan mata?
Karena keindahan yang nyata adalah sesuatu yang tidak terlihat. Seperti cinta, rindu, kenangan dan fatamorgana.



Sudah kubilang ini cuma soal waktu.
Waktuku untuk melupakan,
waktuku untuk mengikhlaskan,
waktuku untuk belajar menyimpan rinduku sendiri.

Semuanya masih sama, lembayung senja masih terlihat keemasan dengan sedikit percikan matahari yang akan tenggelam.
Namun tangisku kali ini tanpa isak, karena segala asa sudah terlanjur melebur menjadi luka.
Sepi ini sudah terlanjur hening, dan kenangan tentangmu masih saja membuatku tersungkur dan mengaduh.
Kamu yang pernah menjadi sebuah renjana di batin yang penuh luka.

Kamu fatamorganaku,
memecahkan bingkai kebahagian yang sudah kususun rapi.
menambah luka di dinding nestapa.

Pada akhirnya,
aku membiarkan rasa ini menguap dan rindu ini menggerogoti hati yang sudah tak berbentuk.
Tenang saja, aku masih menjadi penonton setiamu yang senang mendengarkanmu mendongeng kisah kasih bahagia.
Palsu!
Iya, kamu tetap saja kamu, si fatamorgana.
Indah, tapi hanya sementara. -K





Fatamorganaku, chapter 12


Rinduku untuknya sudah habis.
Aku membiarkan ruang kosong itu tetap pada tempatnya.
Berdebu, dan usang.
Ternyata hatiku tak sekuat itu, rapuh hanya karena seutas janji yang pernah terucap.
Aku dan si fatamorgana ada karena cinta yang tak pernah tersampaikan.
Aku yang mencinta sendiri, aku yang berbaur dengan ragu.
tanpa aku sadari, rasa ini menguap begitu saja.
Dilupakan, hilang, seperti senja sore itu. -K

Friday, January 11, 2019

Fatamorganaku, chapter 11


Tak ada lagi tulisan tenang rindu pada si fatamorgana. 
Sajak tentangnya sudah terkuras habis oleh realita yang seolah menamparku begitu keras. 
Kekecewaan sedang berusaha membangunkanku dari mimpi yang panjang tentangnya. 
Aku kira aku boleh sedikit berharap, nyatanya waktu masih saja menjadi kawan lama yang memusuhiku.
Benar adanya, kamu adalah fatamorganaku, aku tak akan bisa menjangkaumu meskipun aku terseok-seok berusaha meraihmu. 
Jangan khawatir masalah hati, dia lebih kuat dari yang kamu pikir. 
Tidak percaya? Lihat saja! Kamu sudah mengangkatnya tinggi-tinggi dan menerbangkannya, sekarang kamu jatuhkan dan membuatnya hancur menjadi puing-puing kecil, namun dia masih dsana. Dia si hati, merapikan satu demi satu puing-puing itu dan menyusunnya kembali supaya ruang kosong untukmu tetap ada dan terlihat. 
Iya, mungkin terlihat seperti kain perca. Karena si hati punya banyak bekas luka. Kamu tau kenapa? Karena si hati mudah sekali percaya, bawasanya orang-orang yang dicintainya akan tetap setia. Nyatanya semua sama, mereka memilih pergi untuk memperjuangkan hati yang lain. -K

Semua Akan Baik-Baik Saja (chapter 4)


Sabtu pagi pada hari itu, Luna terbangun dari tidurnya, matanya membengkak karena menangis semalaman. Kepalanya pusing, pergelangan tangannya terasa perih. Ia menengok pergelangan tangannya yang sudah ditutup plester oleh ibunya. Luna ingat betul apa yang terjadi semalam, dan ia merasa sangat bersalah pada ibu dan adiknya. Luna menatap kesekeliling kamarnya, ia terhenti pada handphone yang tergeletak di atas meja belajarnya, kali ini ia tidak menangis. Air matanya seakan sudah habis karena menangis semalaman. Luna beranjak dari tempat tidurnya dan turun menghampiri ibunya yang sedang menyiapkan sarapan nasi goreng dan telur setengah matang kesukaan Luna. “Ayo sarapan Luna.” Tegur ibunya sambil tersenyum. Luna mengangguk. Rara, adik Luna mencuri-curi pandang kearah Luna dari sebrang meja untuk memastikan bahwa kakaknya sudah baik-baik saja. “Kenapa liat-liat gitu? Cantik ya?” kata Luna menggoda adiknya sambil tersenyum. “Ih apaan? Gosok gigi lu sana. Bau jigong!” jawab Rara nyeleneh. Luna dan Ibunya tertawa kecil menanggapi candaan Rara.
Mereka bertiga sarapan bersama pagi itu, sesuatu yang jarang sekali terjadi di atas meja makan srumah sederhana itu. “Luna, kalau Luna ngga bisa cerita sama ibu, Luna mau ke psikolog aja? Biar Luna bisa bebas ceritanya.” tanya ibu Luna dengan nada yang sangat hati-hati. Dengan sigap, Luna menengok ke aarah ibunya, “Luna ngga gila bu.” Jawab Luna ketus. Luna berusaha mengacuhkan pertanyaan ibunya. “Emangnya, kalo kita pergi ke psikolog, itu berarti kita gila? Engga saya, itu artinya kita butuh seseorang yang bis kita ajak cerita dan kasih kita solusi.” Ibu Luna menjelaskan kepada Luna dengan lembut. “Iya. Nanti gampang kalo Luna uda mood.” Luna menjawab ibunya masih dengan nada yang ketus. Tentu saja ibunya memakluminya setelah apa yang terjadi semalam. Percakapan tentang pergi ke psikolong ini membuat suasana di meja makan yang tadinya hangat menjadi agak sedikit dingin. “Gimana kalo hari ini kita makan siang di luar?” ujar Rara yang mempunyai inisiatif memecah keheningan. “Iya, boleh. Iya kan Luna?” kata ibu menanggapi. “iya terserah.” Jawab Luna singkat.

Waktu sudah menunjukan pukul 10.00 pagi saat Luna, ibu beserta adiknya mulai bersiap-siap untuk menhabiskan waktu bersama diluar. Butuh waktu kira-kira satu jam untuk mereka selesai berdandan. Dan akhirnya waktu sudah menunjukan pukul 11.00. “Kita makan seafood ya bu? Rara pengen makan seafood.” ujar Rara bersemangat. Ibunya mengiyakan sambil tersenyum. Taxi yang mereka pesan sudah menggu di luar, mereka bertiga bergegas masuk ke dalam taxi. Di perjalanan, mereka asik mengobrol dan seakan lupa dengan apa yang terjadi pada Luna semalam. Luna sendiri sudah kembali tersenyum dan tertawa bersama dengan ibu dan adiknya. Rasanya sudah lama sekali mereka bertiga tidak menghabiskan waktu bersama dengan canda dan tawa seperti ini. Untuk sesaat, Luna merasa sangat bahagia.
Sesampainya di restaurant, Rara dan Luna bergegas memesan makanan kesukaan mereka. Luna suka sekali dengan kepiting saus padang, sedangkan Rara suka sekali dengan udang asam manis, Ibu mereka seperti biasa, memesan kerang mentega. Mereka bertiga terlihat sangat menikmati waktu kebersamaan yang ada saat ini. “Ra, ada live music tuh, kamu nyanyi ya habis ini.” pinta Luna kepada adiknya yang memang jago bernyanyi. Rara pernah menjadi juara bintang radio sebelumnya dan dia juga vocalist band disekolahnya, “Lagunya terserah gue ya kak?” tanya Rara kepada kakaknya. “Iya terserah.” jawab Luna.
Setelah ketiganya selesai makan, Rara beranjak dari kursinya menuju ke panggung live music di restaurant itu. Dengan semangat, Rara terlihat sedang berdiskusi dengan band yang bekerja di restaurant tersebut. Rara mulai bernyanyi,

Many nights we prayed
With no proof, anyone could hear
In our hearts a hopeful song
We barely understood
Now we are not afraid
Although we know there's much to fear
We were moving mountains long
Before we knew we could, yes
There can be miracles
When you believe
Though hope is frail
Its hard to kill
Who knows what miracles
You can achieve

When you believe, somehow you will
You will when you believe
.
.
.
. (When You Believe – Witney Houstan and Mariah Carey)
Rara menyanyikan lagu itu untuk kakanya. Lagu yang ia percaya bisa membantu kakaknya bahwa pada akhirnya, semua akan baik-baik saja jika kamu percaya pada diri kamu sendiri. Luna dan Ibunya menatap Rara dengan pandangan terharu. Dan begitu Rara selesai bernyanyi, tepuk tangan seluruh pengunjung restaurant terdengar merdu mengiringi langkah Rara kembali ke tenpat duduknya. Luna menatap Rara dengan senyum lebar. Ibunya mengusap kepala Rara dan Rarapun tersipu malu.
.
.
.
Mereka bertiga sedang dalam perjalanan pulang kerumah saat Luna mendapati handphonenya berdering menandakan ia mendapat pesan baru. Luna mengintip handphonya lalu berusaha mengacuhkannya. Namun seperti yang terjadi semalam, pesan-pesan itu tidak hanya dikirim satu atau dua kali tapi puluhan kali. Ibu Luna yang memperhatikan gelagat Luna mulai bertanya. “Itu telfon kenapa ngga di angkat Lun?” tanya ibunya. “Engga bu, ini pesen dari profider, banyak spam akhir-akhir ini.” Luna terpaksa harus membohongi ibunya. Luna tidak mau ibunya tau, lalu menjadi sedih lagi.
Sesampainya dirumah, Luna berpamitan kepada Ibu dan adiknya untuk pergi ke kamar untuk beristirahat sebentar dan beralasan dirinya sangat lelah. Di kamar Luna membaca satu-satu pesan yang ia dapat. Kali ini, ia tidak sedih atau menetaskan air mata, perasaan marah kini menjalar ke seluruh tubuhnya. “Aku ngga akan ngebiarin sms sampah mace mini ngerusak semuanya. Aku harus kuat seperti biasanya.” Kata Luna pada dirinya sendiri.  Setelah itu Luna mengirim pesan kepada Diana, “Di, maen ketempat aku dong, ntar aku kasih martabak deh.” Setelah mengirim pesan kepada Diana, Luna melemparkan handphonenya ke kasur, dan Luna meraih kembali laptopnya dan seperti biasa ia membuka blognya.
“Terjatuh, terluka, bangkit, jatuh cinta, menangis, bahagia, kesedihan, cemooh, fitnah. Sunnguh, manusia bukan yang sempurna. Bukan bagaimana kita melupakan tapi bagaimana kita bisa berdamai pada diri sendiri. Mereka bilang semuanya akan baik-baik saja, asalkan kita menempatkan segala sesuatu pada porsinya,tidak usah di paksa. Bukankah Allah menjanjikan pelangi setelah hujan?”
“Ok Boss! Setengah jam lagi gue nyampe Lun,. Martabak I’m coming”.  Begitulah jawaban dari Diana. Luna tersenyum lebar membacanya. Luna tau, jika Diana adalah satu-satunya orang yang akan setia berteman dengannya sampai ia tua. Ya, Setidaknya itulah yang Luna pikir dan rasakan saat ini.

-         To be Continued


Hati yang Patah (chapter 3)


Rumah sudah sepi saat Luna terbangun dan bergegas untuk bersiap-siap ke sekolah. Ibunya sudah pergi ke kantor, dan Rara adiknya sudah pergi ke sekolah.
Luna sudah terbiasa dengan suasana rumah yang dingin, ini tidak kali pertama Luna ribut dengan ibunya soal pertemuan diam-diamnya dengan ayahnya. Ibunya bahkan bisa mendiamkan Luna selama berhari-hari dan tidak mengajaknya bicara saking marahnya. Namun Luna sudah bertekad untuk meminta maaf kepada ibunya nanti sore.
Dan seperti hari-hari yang lainnya, meskipun Luna sedikit terlambat karena bangun kesiangan, Dika sudah menunggu Luna di depan pagar rumahnya untuk mengantarnya ke sekolah. Diperjalanan, mereka tidak saling bicara. Luna rasa, Dika susah tau apa yang terjadi kemarin dari Diana, karena Dika sendiripun tidak berani memulai percakapan. Sesampainya di gerbang sekolah, Luna dan Dika hanya bertukar senyum sebelum akhirnya Dika meninggalkan Luna. Luna berdiri terpaku di depan gerbang sekolahnya selama beberapa menit, memandang kosong ke arah palang nama sekolahnya yang besar.  "Aku harus bisa." ucapnya pada dirinya sendiri. Luna melangkah mantap menuju kelasnya. Tidak seperti kemarin, pandangan-pandangan merendahkan yang datang dari penjuru sekolah sedikit berkurang. Beberapa orang bahkan melemparkan senyum ke Luna. Dan banyak pula yang mulai bertanya pada Luna sebenarnya apa yang terjadi kemarin. Tentu saja semua murid disekolah sudah tahu apa yang terjadi, namun mereka ingin mendengar versinya langsung dari Luna. Luna tidak berkata apapun, dia hanya tersenyum kepada mereka. Luna tahu betul bahwa mereka semua tidak benar-benar perduli, mereka hanya sekelompok orang yang ingin tahu dan senang mengumpulkan cerita untuk bahan bergossip.

Luna sedang melamun di bangku kelasnya sambil menatap keluar. Betapa kagetnya Luna ketika ia melihat Kania, Jojo dan Akbar melenggang dengan santai menuju kelasnya. Teman-teman mereka langsung saja mengerubungi mereka dan memberondong mereka dengan pertanyaan seputar kejadian kemarin. Melihat kejadian itu, Luna buru-buru mengambil handphone dan headsetnya dan langsung memutar musik kesukaannya. Dibukanya buku geografi miliknya. Tentu saja Luna tidak benar-benar sedang membacanya. Pikirannya tertuju kepada Kania, Jojo dan Akbar. Bagaimana bisa mereka ke sekolah dengan santai dan menebar senyuman? "Pak Teguh bilang kalau mereka akan disekors. Tapi.. tapi.. kenapa? Ah.. sudahlah. Seharusnya aku tidak berharap." Ujar Luna dalam hati. Luna berkaca-kaca. Tentu saja, Luna mengira paling tidak dia bisa mendapatkan keadilan, tapi kenyataannya Luna hanya mendapatkan kekecewaan yang lain.
"We get hurt because we love someone too much, we hoping too high, and we dreaming too often."
Sepanjang hari Luna sama sekali tidak bisa berkonsentrasi dengan pelajarannya.
Bel yang menandakan jam istirahat bordering kencang. Murid-murid berhamburan keluar kelas dan menuju ke kantin. Namun tidak dengan Luna, dia masih menatap kosong kolong mejanya. Sesekali, ia menusap air matanya. Luna juga tidak menyadari bahwa Diana sudah duduk di sampingnya, mengamatinya, namun tidak berkata apa-apa. Diana mengelus pundak Luna dan membuatnya tersentak. Luna menatap balik Diana dan memeluknya sembari menahan tangis. Ruang kelas yang kosong itu membuat Luna menjadi lebih nyaman untuk meluapkan kesedihannya kepada Diana. “ Gue tau yang elo rasain Lun, sorry gue ngga bisa bantu lo apa-apa.” Ucap Diana. Luna mengangguk lirih.

Karena luka tak mungkin bisa hilang, setidaknya bantu aku untuk melupakan.
Jikalau engkau merasa lelah, tekuklah lututmu dan jadilah si penghamba dihadapan Tuhanmu. Karena yang kekal bukanlah harga diri, namun amal dan baktimu kepada Ilahi.
.
.
.
.
.

Setelah sekolah usai, Luna, Diana dan Dika tidak langsung pulang ke rumah, mereka mampir ke sebuah kafe di dekat sekolah untuk sekedar berbincang dan menghibur Luna. Seperti biasa, Luna memesan coklat panas kesukaannya, “Aku ngga ngerti, sebenernya apa yang harus aku lakuin sama mereka. Pak Teguh bilang, mereka bakal diskores, tapi tadi mereka senyum-senyum aja di sekolah?” ucap Luna tiba-tiba memecah keheningan. “ Aahh… gue yakin ni kalau nyokap Kania ngelakuin sesuatu di belakang semuanya. Liat aja, gue bakal cari tau.” Sambung Diana. Dika duduk di antara mereka dan tidak berkomentar sedikitpun. Dika memang bukan tipe orang yang banyak bicara, tapi Luna tau, kalau Dika juga sangat peduli terhadapnya. Mereka bertiga asik membicarakan macam-macam dan itu membuat Luna melupakan sejenak kesedihannya.
Senja itu habis begitu saja, Luna dan kedua temannya beranjak dari kafe dan mereka berpisah untuk pulang kerumah masing-masing. Luna tidak pulang bersama Dika kali ini, karena Luna hanya ingin menghabiskan waktunya sendiri. Dijalan, Luna kembali ke pikirannya yang dia lupakan sejenak tadi. Luna masih tidak habis pikir, kenapa dunia terasa memusuhinya saat ini. Sekolah yang ia kira bisa menjadi salah satu tempat untuknya melupakan keluh kesahnya di rumah malah menambah kesedihannya.
Sesampainya dirumah, Luna melihat kendaraan ibunya sudah terparkir di halaman rumah, menandakan jika ibunya sudah berada dirumah. Hati Luna semakin kacau, tapi Luna tau, ia harus segera meminta maaf kepada ibunya. Dengan sedikit rasa takut di benaknya, luna memberanikan diri untuk masuk ke rumah. “Assalamuallaikum.. “ kata Luna. “Walaikumssallam..” jawab ibu Luna singkat tanpa memandang kea rah pintu untuk melihat siapa yang datang. Masih dengan rasa takut, Luna menghampiri ibunya, “Bu, Luna minta maaf ya, kalau kemarin Luna ngga bilang sama ibu kalau Luna ketemu sama ayah diam-diam.” ujar Luna. Ibu Luna menolehkan kepalanya kearah Luna dan langsung memeluk Luna dengan erat sambil menangis. “Iya Luna, ibu juga minta maaf kalau selama ini ibu ngga bisa jadi orang tua yang baik buat Luna. Luna harus tau, alasan ibu melarang Luna untuk bertemu dengan ayah Luna untuk menghindari hal-hal seperti ini. Dan ibu tidak mau melihat Luna semakin sedih dan sakit.” Luna memeluk erat balik ibunya sambil menangis. “Sekarang Luna mandi lalu istirahat ya. Jangan lupa sholat. Kalau Luna ada masalah di sekolah, Luna bisa cerita ke ibu.” ujar sang ibu sembari mengelus kepala Luna. Luna hanya mengangguk lalu ia langsung menuju ke kamarnya.
Luna merebahkan diri di kasur sebentar sebelum ia pergi mandi dan bergegas untuk sholat magrib. Selesai melakukan keduanya, Luna meraih laptopnya dan mulai membuka blognya.

Ada kalanya kita mengacuhkan Tuhan, menganggap semuanya akan baik-baik  saja meskipun kita pendosa paling besar, karena Tuhan maha pemaaf.
Sebagian dari kita senang sekali berperan sebagai asisten Tuhan, menikmati sekali tugasnya untuk menilai dan mengkritik sesamanya.
Sebagian yang lain senang menggurui. Menganggap dirinya yang paling benar dan paling dekat dengan Tuhan.
Yang lain lagi, mempertanyakan adanya Tuhan, dimana, seperti apa, kenapa, bagaimana bisa.
Dan tanpa kita sadari, kita sudah kehilangan Tuhan. 
Bukan karena Tuhan meninggalkan kita, namun kita yang menjauh dari-Nya.
.
.
.
.
.
Tulisannya terhenti di sajak, apakah sekarang ini Luna sedang mempertanyakan Tuhan? Luna sendiri tidak tahu.
Lamunannya terhenti oleh suara pesan yang masuk ke handphonenya. Pesan itu dari nomer yang tidak Luna kenal. Isinya “Ini bener nomer Luna? Berapa elo semalam? Mau ngga tidur sama gue?” Membaca pesan itu, Luna tanpa sadar menjatuhkan handphonenya, Luna tersungkur ke lantai dan menangis sejadi-jadinya. Saat itu juga pesan tak henti-hentinya masuk. Dengan nomer yang berbeda-beda tetapi semua isinya hampir sama. Luna sendiri tidak tahu bagaimana orang-orang itu bisa mendapatkan nomernya. Sambil masih menangis Luna mengambil handphonenya lalu langsung mematikannya. Fikirannya kalut, dan luna meraih silet yang ada di meja riasnya, lalu mengiris pergelangan tangannya.
Ibu dan adik Luna yang mendengar tangisan Luna bergegas menuju ke kamar Luna dan mendapati Luna yang tangannya sudah berdarah dan asmanya yang mulai kambuh. Ibu Luna langsung membantu Luna untuk menghentikan pendarahannya dan adiknya memberikan Luna inhaler. Berlahan, luna mulai bernafas normal, ibu dan adiknya menatap luna dengan pandangan sedih. “Luna kenapa lagi nak? Inget sama Allah nak. Jangan kaya gini lagi ya nak. Luna cerita ke ibu kalau Luna sedih. Jangan ngelakuin hal-hal kaya gini lagi ya nak.” kata ibu Luna sambil berlinang air mata. Luna hanya mengangguk, tatapannya kosong, air mata tak henti-hentinya keluar dari matanya. Luna tidak berani bilang ke ibu atau adiknya apa yang sebenarnya terjadi. Tentang semua pesan yang ia terima malam itu. Luna tidak mau menambah beban ibunya. Luna terus menangis sampai ia lelah dan tertidur, Dan malam itupun Luna tidur ditemani oleh ibu dan adiknya.


-To be Continued

Fatamorganaku, chapter 10


Dan pada akhirnya, aku harus membiarkan fatamorganaku pergi.
Dia sekali lagi, hanyalah fatamorgana. Terkadang aku melihatnya di dalam bayanganku sendiri. Aku melihatnya di kejauhan, lalu dia menghilang saat aku mendekat.
Aku melihatnya di dalam angan, namun dia menghilang saat aku terbangun.
Aku tak sadar, aku hanya mencintai sendiri.
Aku terjebak dalam renjana yang kemudian melukai mimpiku sendiri.
Dia fatamorganaku yang nyata, meremukan hatiku hingga aku merana. -K

Fatamorganaku, chapter 9


Rindu adalah rasa paling jujur. Karena rindu selalu bercerita tentang kenangan, harapan, cinta, kebahagian dan kesedihan.
Bahkan rindu bisa bercerita tentang rasa sakit dan duka masa lalu.
Yang paling indah dari rasa rindu adalah senja, karena keduanya seakan senang sekali berkolaborasi menciptakan kesenduan. Rindu dan senja bagiku, jelas sekali senang melukis tentang fatamorganaku.
Dia yang bisa kulihat namun tak bisa kuraih. -K

Fatamorganaku, chapter 8


Aku kira rindu itu masih sama menggebunya, tapi nyatanya mengingatmu hanya mendatangkan sendu. Kamu bilang sudah selesai, namun dia masih saja merengek memohon cintamu yang hanya sekedar kata tanpa ada rasa. Iya, itu katamu padaku.
Kamu ingat langit sore itu? Bahkan senja saja ogah untuk mendengar ceritamu.
Aku pikir hujan di bulan desember bisa membantuku mengguyurmu dengan cinta yang kunyatakan. Tapi tidak, ulahmu membuatmu ragu. Kamu bilang akan bertahan, tapi nyatanya kamu menghilang.
Aku sendiri yang berjuang. Sedangkan kamu berusaha melupakan. -K

Fatamorganaku, chapter 7


Jika memujamu hanya menimbulkan luka, biarlah aku saja yg merasa.
tak perlu melibatkan figuran untuk masuk ke labirin kita.
Biarkan Tuhan yang menjadi sutradaranya.
Jangan salahkan cinta yang datang di waktu yang tidak kamu inginkan. Kita harus sadar, satu-satunya cara untuk bertahan adalah berhenti mengutuki keadaan.
Maafkan aku yang tanpa persetujuanmu telah mencintaimu sedemikan rupa.
Benar, ini untukmu lagi. Bahkan tanpa kusebut namamu, semua orang sudah tau.
Fatamorganaku. -K

Fatamorganaku, chapter 6

Harusnya aku cukup berani berterus terang,
Harusnya aku dulu berani mengambil resiko untuk sakit.
Harusnya aku,...
Seandainya aku,..
Nyatanya melihatmu berbahagia dengan pasanganmu terasa lebih sakit daripada mencoba melupakanmu.
Hati ini hebat, bahkan pandai berpura-pura. Namun sayang, hati ini tidak cukup luas untuk menampungmu pulang.
Mungkin aku bukan dicipta untuk menjadi tulang rusukmu,
Tapi yakinlah, suatu hari nanti, saat kamu temukan cahaya untuk sinari langkahmu, tengoklah hati ini sebentar saja. Bukan untuk tinggal, singgah saja sebentar, agar kamu tau, betapa berartinya kamu di kehidupanku.
-K

Fatamorganaku, chapter 5


Rumah tidak selalu tentang dimana kita tinggal atau berteduh dari teriknya matahari dan derasnya hujan.
Dan rumah juga tidak melulu tentang dimana kita dilahirkan atau bahkan dimana orang tua kita berada.
Rumah adalah tentang rasa.
Saat hati kita merasa nyaman,
Saat hati kita merasakan cinta,
Bahkan saat hati kita merasakan kerinduan.
Aku bercerita tentang sosokmu.
Rumahku, tempat dimana hatiku selalu menunggunya untuk pulang. -K

Fatamorganaku, chapter 4

Nyatanya, hatiku tak cukup luas untuk menjadi rumah bagi jiwamu.
Bahkan terkadang, aku cemburu pada awan yang sering kali kau pandang.
Aku kira semua baik-baik saja saat aku berusaha melupakan.
Aku sempat percaya, bahwa berpisah adalah cara terbaik untuk saling mendoakan.
Nyatanya, merindumu hanya membuatku bermusuhan dengan sang waktu.
Iya, ini untukmu lagi.
Fatamorganaku.
Kamu yang bisa hilang, bahkan saat aku berkedip. -K

Fatamorganaku, Chapter 3

 
Terkadang kita hanya bingung bagaimana membedakan antara cinta, dan rasa kekaguman yang besar. 
Setiap orang memiliki kewarasannya masing-masing.
Sebagian memilih bertahan dalam diam, atau melepaskan dengan goresan luka yang dalam.
Untukmu fatamorganaku, 
Nyatanya, cinta selalu punya caranya sendiri untuk menyatukan yang hilang, dan mempertemukan yang terbuang. -K

Fatamorganaku, chapter 2


Hujanku saat ini sedang bercerita tentang kamu. 
Kamu yang membuatku mau mengakui rindu. 
Kamu yang tidak membuatku jatuh cinta namun ingin membangun cinta. 
Kamu yang kukira sudah lelah berlarian di pikiranku tapi nyatanya kamu masih disana.
Kamu yang ada disetiap doaku. 
Kamu yang membuatku tersungkur dan sesak karena tak sanggup lagi menahan rasa.
Iya Kamu, fatamorganaku. -K

Fatamorganaku, chapter 1

Ada beberapa hal yang membuat hujan begitu spesial ; aroma tanah, sejumput kenangan, sederas rindu, secangkir coklat dan kamu.
Hujan yang terkadang membantuku mengingat hal-hal yang aku coba lupakan.
Derasnya hujan juga membantu menutupi air mata yang tak terbendung karena rindu yang membuatku sesak nafas.
Hujan adalah tentang kamu dan kita.
Untuk kamu yang sekarang hanyalah fatamorganaku. -K


Chapter thirteen

There was a time when i thought everything was gonna last forever and everything was always gonna be ok. Just when i thought the story...