Monday, September 2, 2019

Chapter thirteen





There was a time when i thought everything was gonna last forever and
everything was always gonna be ok.
Just when i thought the story will end in happiness, everything disappeared just like a dream.
That's when i realised, everyone can have a dream, but not everyone can keep their dream. -K

Chapter twelve







I never be sad for what is over, just be glad that it was once mine.
But its funny to know that people easily to say love thousand time...
And giving up in a minute. I.... don't understand it.
But hey, you gotta know love can sometimes be magic. Just be an illusion, and "Unreal".
And this is seriously warning! When you are fall in love and get hurt, its like a cut! It will heal, but there will always be a scar.
But you know what?! Love its love, how scary it is love, how depressing it is love. Love has it own way to make us alive.
What I'm trying to say is, you gotta mean it when you are saying love, and you gotta fight for it! Because if its worth having, so its worth fighting for. -K
.
.
.
.
. 🌎 Oceanside, Oregon. CA. US

Friday, May 17, 2019

Chapter eleven



Berjuanglah seperlunya,
Berjuanglah untuk mereka yang pantas kamu perjuangkan.
Mereka yang tetap tinggal, saat dunia memusuhimu.
Tak semua yang berkawan denganmu akan setia.
Tak semua yang tertawa bersamamu akan mengusap air matamu.
Tak semua yang bahagia bersamamu akan melepaskan kegundahanmu.
Manusia, jangan terlalu percaya pada mereka. Kebanyakan dari mereka hidup dengan keegoisan dan tak mau sendirian.
Beberapa dari mereka memilih untuk tidak masuk ke dalam jaring sosialisasi. Bukan karna tak mau, beberapa dari mereka hanya lelah dengan kepalsuan.
Yang lain lagi takut untuk tersakiti.
Dan pada akhirnya, saat kita tumbuh dewasa, mereka yang pernah tinggal akan pergi. Dan mereka yang setia akan selalu mendampingi. -K

Fatamorganaku, chapter 18


Rinduku kepada kamu si fatamorgana.
Kepalaku mulai sesak memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika waktu bisa aku hentikan sementara.
Kenangan tentangmu masih saja mengusik rasa yang sudah mati.
Salah siapa hati ini berkhianat?
Tidak tau diri merajut sejumput rindu akan bayangmu.
Jangan khawatir, tak sedikitpun air mata ini menetes untukmu.
Aku tau hati ini bukanlah baja.
Namun aku yakin, waktu adalah penghapus terbaik untuk luka yang tak kunjung mengering. -K

Chapter ten


Menyedihkan,
Dimana ketakutan terbesar manusia adalah kepada manusia yang lain.
Takut akan di remehkan,
Takut akan ditertawakan,
Takut akan dikucilkan,
Takut akan ditinggalkan,
Takut akan ketahuan,
Sedangkan takut akan kematian mereka akan letakan di list kehidupan mereka paling bawah.
Takut akan Tuhannya mereka kesampingkan dengan duniawi yang lebih menggoda.
Bagi kebanyakan dari mereka, terlihat hebat dan bahagia lebih penting daripada terlihat santun dan beragama.
Sebagian lagi menganggapnya terlalu naif dan fanatik bilamana menjunjung tinggi Tuhan dan kitabnya adalah prioritas utama.
Menyedihkan,
Ketika sesamanya beradu argumen siapa yang paling benar.
Salah satu dari mereka bahkan menganggap agama dan Tuhannya hanyalah tameng untuk meraih kuasa.
Lalu tiba saatnya, dimana nasehat yang dilontarkan hanyalah lantunan sambil lalu yang tak perlu di dengar.
Takut.
Pada siapa?
Pada apa?
Bukankah Tuhan yang paling berhak untuk kita takuti? -K

Chapter nine


Akan tiba dimasa si pendosa ini hanya mengharapkan segalanya baik-baik saja.
Mereka berbondong-bondong ingin menjadi manusia yang dekat dengan Tuhannya.
Namun kapan saat itu datang, adalah tabir misteri kehidupan yang tak bisa diterka.
Sebagian dari mereka menunggu tua,
Yang lain menunggu sakit,
Yang lain lagi menunggu celaka.
Ironis.
Aku dan mereka sama, serakah.
Ingin di dengar, namun tak ingin mendengar.
Membusungkan dada dan berkata "aku juga berhak bahagia."
Sombong sekali! Berkata tentang hak namun lupa akan kewajiban.
Beberapa dari mereka merasa yang paling akrab dengan Tuhannya, hanya karrna mereka berbalur kitab suci dan  penutup kepala.
Menyedihan bukan?
Iya.
Manusia, mereka pikir mereka makhluk paling sempurna.
Padahal merekalah yang paling hina. -K

Monday, February 11, 2019

Fatamorganaku, chapter 17

Kenangan.. Biarkan mereka seperti itu adanya, agar kita tau bagaimana caranya merintih dan mengaduh.
Masa lalu..
Sungguh aku berterima kasih kepada mereka yang begitu brengseknya datang untuk bersenang-senang kemudian pergi untuk dikenang.
Bahkan mereka yang pernah menjadi topik paling penting di hidupku kini hanyalah kepingan berdebu yang terhapus oleh waktu.
Aku sendiri tak tau kenapa hati ini berkhianat. Membuka buku lama yang sudah kututup dan menaburkan garam di atas luka. Air mata sudah terlanjur melaut di dalam dekapan tanganku sendiri.
Aku kira aku sudah lupa, tapi nyatanya, aku hanya "sedang lupa". Bayanganmu masih terukir jelas di ujung pikiranku.
Tenang saja, aku sudah tak lagi menangis untuk menyelamatkan bagian hati ini untukmu.
Karena pada akhirnya, kamu hanyalah figuran di dalam film kehidupan yang Tuhan sutradarai untukku.
Fatamorganaku.
Hilang, seperti pelangi yang dihapus sang waktu. -K

Chapter thirteen

There was a time when i thought everything was gonna last forever and everything was always gonna be ok. Just when i thought the story...