Wednesday, November 14, 2018

Chapter four



Manusia itu rumit, banyak maunya. Sebagian dari mereka datang untuk bersenang-senang, dan sebagian lagi untuk dikenang. Kebanyakan dari mereka cuma menawarkan kebahagiaan sesaat.
Yang lainnya lagi datang untuk mencaci dan menyakiti. 
Derasnya hujan sore ini tak bisa menghapuskan prahara yang ada dalam hati manusia.
Aku masih menyusun kisah dalam mimpi meski aku terjaga. Ini bukan tentang mereka yang pernah menjadi figuran dalam kehidupanku, yang saat ini hanya tersisa beberapa, dan semuanya sedang asik memukulku dengan cerita masa lalu hingga aku mengaduh. 
Orang-orang itu, mereka asik sekali menilaiku. Hebat, seakan Tuhan telah memilih mereka menjadi asisten-Nya.
Kututup sejenak mataku, benar adanya, sesuatu yang indah kebanyakan adalah yang tidak terlihat.
Seperti jatuh cinta, kenangan, dan aroma khas orang-orang yang kita sayangi.
Kebahagiaan yang ditimbulkan oleh semua itu sungguh terasa nyata. Dan kebahagian yang sebenarnya ada saat mereka tau caranya bangkit saat mereka terjatuh, dan untuk mereka yang tersakiti, mereka yang telah dan tengah mencari, dan mereka yang telah mencoba. Karena merekalah yang bisa menghargai betapa pentingnya orang-orang yang telah membuat kehidupan mereka terasa lebih berarti.
Untukmu hatiku,
hati yang kuat meski ratusan kali kalian coba hancurkan, tenang saja, pada akhirnya Kamulah yang paling tau siapa dirimu. Dan kamulah yang paling mengerti caranya berbahagia yang sederhana, seperti mawar yang tak pernah mempropagandakan harum semerbaknya. -K



🌎 In your Right side, 2018


No comments:

Post a Comment

Chapter thirteen

There was a time when i thought everything was gonna last forever and everything was always gonna be ok. Just when i thought the story...