Thursday, November 1, 2018

Chapter one


Mentari itu datang begitu saja, ia selalu menepati janjinya tanpa diminta.
Untuk kalian yang sedang terluka, mari kita bercerita.
Namaku senja, di suatu pagi yang kelabu, renunganku membuatku terbuai dalam kenangan masa kecilku. Sebagian kecil diriku merindukannya, tapi bagian yang lainnya begitu ingin melupakannya.
Akupun menyadari, bahwa menjadi dewasa bukanlah sesuatu yang begitu menyenangkan.
Rinduku untuknya, untuk mereka, biar aku saja yang merasa. Tak apa. Terkadang hidup memang memihak pada satu sisi saja.
Iya, aku memang sedang rindu. Aku rindu akan tawa, aku rindu akan pertengkaran kecil, aku rindu akan kepedulian, aku rindu akan mimpi yang pernah disusun di antara puing-puing yang pernah menusuk tepat di hatiku. Hati yang hebat, karena setelah itu dia bisa kembali terakit meskipun lukanya masih terlihat jelas.
Sampai pada akhirnya aku menyadari, bukan kita yang berubah, tapi waktu. Kecewa? Tentu saja, tapi itu salahku. Salahku yang terlalu berharap. Bukankah rasa kecewa itu datang karena kita terlalu berharap? "Tak apa." Kataku. Hati ini masih hebat.
Sudah ya, mungkin besok sudah tidak rindu.
---untukmu yang kukira "sahabat" terbaikku.
-K



🌎 Santa Cruz, CA. USA 2018

No comments:

Post a Comment

Chapter thirteen

There was a time when i thought everything was gonna last forever and everything was always gonna be ok. Just when i thought the story...