Tuesday, November 6, 2018

Chapter three

Pagi ini hujan, yang aku suka darinya tentu saja baunya. Entah kenapa, harumnya hujan yang menyentuh tanah selalu membuatku campur aduk. Bahagia akan kehidupan dan sedih akan kenangan. Ya Allah sang pemilik semesta dan cinta, sungguh banyak dosaku. Namun apa yang kuperbuat? Bukannya menjemput hidayah tapi malah menghitung banyaknya luka yang mereka goreskan. 
Mereka yang berjanji untuk bersama, mereka yang berjanji untuk tak pernah saling melukai. Sungguh, janji manusia hanyalah omong kosong belaka. 
Bahkan saat aku mengingatnya, semesta alam terlihat menikmati untuk menertawakanku.
Teruntuk hati ini yang masih berharap, 
Bukankah melepaskan lebih baik daripada menggenggam sesuatu yang sudah tidak seiring?
Wahai kamu hati yang masih terluka,
Tuntunlah aku menjadi penghamba yang tak ragu menekuk lututku untuk mencari pengampunan dan pengharapan.  -K


🌎 Oxnard, CA. USA 2018

No comments:

Post a Comment

Chapter thirteen

There was a time when i thought everything was gonna last forever and everything was always gonna be ok. Just when i thought the story...