Friday, November 2, 2018

Chapter two

Pagi ini aku terjebak dalam kedamaian fatamorganaku. Masih tentang cerita yang sama, bukan! Aku tidak sedang mengeluhkan tentang menjadi dewasa.
Aku sedang menatap keluar jendela mobil dan melihat sekumpulan anak-anak TK, semesta ini terasa begitu adil saat aku melihat mereka. Begitu menyenangkannya menjadi anak-anak.
Mereka tau persis bagaimana caranya menyusun kebahagian mereka sendiri. Kebahagian yang sederhana, kebahagian yang bisa menghipnotis orang-orang di sekitar mereka.
Ahhh... seandainya lagi, seandainya bahagia bisa sesederhana itu. Bermain dengan ayunan usang ataupun memakan pemen coklat.
Kembali lagi pada kita yang menjadi dewasa, apakah benar kita ini dewasa? Atau hanya menjadi tua dan tak berguna?
Menjadi tua dan mengeluh,
Menjadi tua dan menyesal,
Menjadi tua dan angkuh,
Banyak dari kita yang lupa caranya beryukur. Kita bilang kita beragama, tapi kita lupa kalau kita beraTuhan.
Sampailah pada saatnya aku tersentak untuk yang kesekian kalinya, rindu akan masa lalu hanyalah bagian dari cara kita untuk tidak bersyukur.

Untukmu yg kukira "sahabat" terbaikku,
Selamat menjadi dewasa, terima kasih telah menjadi bagian dari masa laluku dan secara tidak langsung mengajariku untuk lebih realistis. Yang abadi bukan kenangan, karena orang bisa lupa. Sepertimu yang mungkin sedang lupa. -K

🌎 Santa Cruz, CA. USA 2018

No comments:

Post a Comment

Chapter thirteen

There was a time when i thought everything was gonna last forever and everything was always gonna be ok. Just when i thought the story...