Sabtu pagi pada hari itu, Luna terbangun dari
tidurnya, matanya membengkak karena menangis semalaman. Kepalanya pusing, pergelangan
tangannya terasa perih. Ia menengok pergelangan tangannya yang sudah ditutup
plester oleh ibunya. Luna ingat betul apa yang terjadi semalam, dan ia merasa
sangat bersalah pada ibu dan adiknya. Luna menatap kesekeliling kamarnya, ia
terhenti pada handphone yang tergeletak di atas meja belajarnya, kali ini ia
tidak menangis. Air matanya seakan sudah habis karena menangis semalaman. Luna
beranjak dari tempat tidurnya dan turun menghampiri ibunya yang sedang
menyiapkan sarapan nasi goreng dan telur setengah matang kesukaan Luna. “Ayo
sarapan Luna.” Tegur ibunya sambil tersenyum. Luna mengangguk. Rara, adik Luna
mencuri-curi pandang kearah Luna dari sebrang meja untuk memastikan bahwa
kakaknya sudah baik-baik saja. “Kenapa liat-liat gitu? Cantik ya?” kata Luna
menggoda adiknya sambil tersenyum. “Ih apaan? Gosok gigi lu sana. Bau jigong!”
jawab Rara nyeleneh. Luna dan Ibunya tertawa kecil menanggapi candaan Rara.
Mereka bertiga sarapan bersama pagi itu, sesuatu
yang jarang sekali terjadi di atas meja makan srumah sederhana itu. “Luna,
kalau Luna ngga bisa cerita sama ibu, Luna mau ke psikolog aja? Biar Luna bisa
bebas ceritanya.” tanya ibu Luna dengan nada yang sangat hati-hati. Dengan
sigap, Luna menengok ke aarah ibunya, “Luna ngga gila bu.” Jawab Luna ketus.
Luna berusaha mengacuhkan pertanyaan ibunya. “Emangnya, kalo kita pergi ke
psikolog, itu berarti kita gila? Engga saya, itu artinya kita butuh seseorang
yang bis kita ajak cerita dan kasih kita solusi.” Ibu Luna menjelaskan kepada
Luna dengan lembut. “Iya. Nanti gampang kalo Luna uda mood.” Luna menjawab ibunya
masih dengan nada yang ketus. Tentu saja ibunya memakluminya setelah apa yang
terjadi semalam. Percakapan tentang pergi ke psikolong ini membuat suasana di
meja makan yang tadinya hangat menjadi agak sedikit dingin. “Gimana kalo hari
ini kita makan siang di luar?” ujar Rara yang mempunyai inisiatif memecah
keheningan. “Iya, boleh. Iya kan Luna?” kata ibu menanggapi. “iya terserah.” Jawab
Luna singkat.
Waktu sudah menunjukan pukul 10.00 pagi saat
Luna, ibu beserta adiknya mulai bersiap-siap untuk menhabiskan waktu bersama
diluar. Butuh waktu kira-kira satu jam untuk mereka selesai berdandan. Dan akhirnya
waktu sudah menunjukan pukul 11.00. “Kita makan seafood ya bu? Rara pengen
makan seafood.” ujar Rara bersemangat. Ibunya mengiyakan sambil tersenyum. Taxi
yang mereka pesan sudah menggu di luar, mereka bertiga bergegas masuk ke dalam
taxi. Di perjalanan, mereka asik mengobrol dan seakan lupa dengan apa yang
terjadi pada Luna semalam. Luna sendiri sudah kembali tersenyum dan tertawa
bersama dengan ibu dan adiknya. Rasanya sudah lama sekali mereka bertiga tidak
menghabiskan waktu bersama dengan canda dan tawa seperti ini. Untuk sesaat,
Luna merasa sangat bahagia.
Sesampainya di restaurant, Rara dan Luna bergegas
memesan makanan kesukaan mereka. Luna suka sekali dengan kepiting saus padang,
sedangkan Rara suka sekali dengan udang asam manis, Ibu mereka seperti biasa,
memesan kerang mentega. Mereka bertiga terlihat sangat menikmati waktu
kebersamaan yang ada saat ini. “Ra, ada live music tuh, kamu nyanyi ya habis
ini.” pinta Luna kepada adiknya yang memang jago bernyanyi. Rara pernah menjadi
juara bintang radio sebelumnya dan dia juga vocalist band disekolahnya, “Lagunya
terserah gue ya kak?” tanya Rara kepada kakaknya. “Iya terserah.” jawab Luna.
Setelah ketiganya selesai makan, Rara beranjak
dari kursinya menuju ke panggung live music di restaurant itu. Dengan semangat,
Rara terlihat sedang berdiskusi dengan band yang bekerja di restaurant
tersebut. Rara mulai bernyanyi,
Many nights we prayed
With no proof, anyone could hear
In our hearts a hopeful song
With no proof, anyone could hear
In our hearts a hopeful song
We barely understood
Now we are not afraid
Although we know there's much to fear
We were moving mountains long
Now we are not afraid
Although we know there's much to fear
We were moving mountains long
Before we knew we could,
yes
There can be miracles
When you believe
There can be miracles
When you believe
Though hope is frail
Its hard to kill
Who knows what miracles
You can achieve
Its hard to kill
Who knows what miracles
You can achieve
When you believe, somehow
you will
You will when you believe
You will when you believe
.
.
.
. (When You Believe –
Witney Houstan and Mariah Carey)
Rara menyanyikan
lagu itu untuk kakanya. Lagu yang ia percaya bisa membantu kakaknya bahwa pada
akhirnya, semua akan baik-baik saja jika kamu percaya pada diri kamu sendiri.
Luna dan Ibunya menatap Rara dengan pandangan terharu. Dan begitu Rara selesai
bernyanyi, tepuk tangan seluruh pengunjung restaurant terdengar merdu
mengiringi langkah Rara kembali ke tenpat duduknya. Luna menatap Rara dengan
senyum lebar. Ibunya mengusap kepala Rara dan Rarapun tersipu malu.
.
.
.
Mereka bertiga
sedang dalam perjalanan pulang kerumah saat Luna mendapati handphonenya berdering
menandakan ia mendapat pesan baru. Luna mengintip handphonya lalu berusaha
mengacuhkannya. Namun seperti yang terjadi semalam, pesan-pesan itu tidak hanya
dikirim satu atau dua kali tapi puluhan kali. Ibu Luna yang memperhatikan
gelagat Luna mulai bertanya. “Itu telfon kenapa ngga di angkat Lun?” tanya
ibunya. “Engga bu, ini pesen dari profider, banyak spam akhir-akhir ini.” Luna
terpaksa harus membohongi ibunya. Luna tidak mau ibunya tau, lalu menjadi sedih
lagi. Sesampainya dirumah, Luna berpamitan kepada Ibu dan adiknya untuk pergi ke kamar untuk beristirahat sebentar dan beralasan dirinya sangat lelah. Di kamar Luna membaca satu-satu pesan yang ia dapat. Kali ini, ia tidak sedih atau menetaskan air mata, perasaan marah kini menjalar ke seluruh tubuhnya. “Aku ngga akan ngebiarin sms sampah mace mini ngerusak semuanya. Aku harus kuat seperti biasanya.” Kata Luna pada dirinya sendiri. Setelah itu Luna mengirim pesan kepada Diana, “Di, maen ketempat aku dong, ntar aku kasih martabak deh.” Setelah mengirim pesan kepada Diana, Luna melemparkan handphonenya ke kasur, dan Luna meraih kembali laptopnya dan seperti biasa ia membuka blognya.
“Terjatuh, terluka,
bangkit, jatuh cinta, menangis, bahagia, kesedihan, cemooh, fitnah. Sunnguh,
manusia bukan yang sempurna. Bukan bagaimana kita melupakan tapi bagaimana kita
bisa berdamai pada diri sendiri. Mereka bilang semuanya akan baik-baik saja,
asalkan kita menempatkan segala sesuatu pada porsinya,tidak usah di paksa.
Bukankah Allah menjanjikan pelangi setelah hujan?”
“Ok Boss! Setengah jam lagi gue nyampe Lun,.
Martabak I’m coming”. Begitulah jawaban dari
Diana. Luna tersenyum lebar membacanya. Luna tau, jika Diana adalah
satu-satunya orang yang akan setia berteman dengannya sampai ia tua. Ya,
Setidaknya itulah yang Luna pikir dan rasakan saat ini.
-
To be Continued
No comments:
Post a Comment