Friday, January 11, 2019

Semua Akan Baik-Baik Saja (chapter 4)


Sabtu pagi pada hari itu, Luna terbangun dari tidurnya, matanya membengkak karena menangis semalaman. Kepalanya pusing, pergelangan tangannya terasa perih. Ia menengok pergelangan tangannya yang sudah ditutup plester oleh ibunya. Luna ingat betul apa yang terjadi semalam, dan ia merasa sangat bersalah pada ibu dan adiknya. Luna menatap kesekeliling kamarnya, ia terhenti pada handphone yang tergeletak di atas meja belajarnya, kali ini ia tidak menangis. Air matanya seakan sudah habis karena menangis semalaman. Luna beranjak dari tempat tidurnya dan turun menghampiri ibunya yang sedang menyiapkan sarapan nasi goreng dan telur setengah matang kesukaan Luna. “Ayo sarapan Luna.” Tegur ibunya sambil tersenyum. Luna mengangguk. Rara, adik Luna mencuri-curi pandang kearah Luna dari sebrang meja untuk memastikan bahwa kakaknya sudah baik-baik saja. “Kenapa liat-liat gitu? Cantik ya?” kata Luna menggoda adiknya sambil tersenyum. “Ih apaan? Gosok gigi lu sana. Bau jigong!” jawab Rara nyeleneh. Luna dan Ibunya tertawa kecil menanggapi candaan Rara.
Mereka bertiga sarapan bersama pagi itu, sesuatu yang jarang sekali terjadi di atas meja makan srumah sederhana itu. “Luna, kalau Luna ngga bisa cerita sama ibu, Luna mau ke psikolog aja? Biar Luna bisa bebas ceritanya.” tanya ibu Luna dengan nada yang sangat hati-hati. Dengan sigap, Luna menengok ke aarah ibunya, “Luna ngga gila bu.” Jawab Luna ketus. Luna berusaha mengacuhkan pertanyaan ibunya. “Emangnya, kalo kita pergi ke psikolog, itu berarti kita gila? Engga saya, itu artinya kita butuh seseorang yang bis kita ajak cerita dan kasih kita solusi.” Ibu Luna menjelaskan kepada Luna dengan lembut. “Iya. Nanti gampang kalo Luna uda mood.” Luna menjawab ibunya masih dengan nada yang ketus. Tentu saja ibunya memakluminya setelah apa yang terjadi semalam. Percakapan tentang pergi ke psikolong ini membuat suasana di meja makan yang tadinya hangat menjadi agak sedikit dingin. “Gimana kalo hari ini kita makan siang di luar?” ujar Rara yang mempunyai inisiatif memecah keheningan. “Iya, boleh. Iya kan Luna?” kata ibu menanggapi. “iya terserah.” Jawab Luna singkat.

Waktu sudah menunjukan pukul 10.00 pagi saat Luna, ibu beserta adiknya mulai bersiap-siap untuk menhabiskan waktu bersama diluar. Butuh waktu kira-kira satu jam untuk mereka selesai berdandan. Dan akhirnya waktu sudah menunjukan pukul 11.00. “Kita makan seafood ya bu? Rara pengen makan seafood.” ujar Rara bersemangat. Ibunya mengiyakan sambil tersenyum. Taxi yang mereka pesan sudah menggu di luar, mereka bertiga bergegas masuk ke dalam taxi. Di perjalanan, mereka asik mengobrol dan seakan lupa dengan apa yang terjadi pada Luna semalam. Luna sendiri sudah kembali tersenyum dan tertawa bersama dengan ibu dan adiknya. Rasanya sudah lama sekali mereka bertiga tidak menghabiskan waktu bersama dengan canda dan tawa seperti ini. Untuk sesaat, Luna merasa sangat bahagia.
Sesampainya di restaurant, Rara dan Luna bergegas memesan makanan kesukaan mereka. Luna suka sekali dengan kepiting saus padang, sedangkan Rara suka sekali dengan udang asam manis, Ibu mereka seperti biasa, memesan kerang mentega. Mereka bertiga terlihat sangat menikmati waktu kebersamaan yang ada saat ini. “Ra, ada live music tuh, kamu nyanyi ya habis ini.” pinta Luna kepada adiknya yang memang jago bernyanyi. Rara pernah menjadi juara bintang radio sebelumnya dan dia juga vocalist band disekolahnya, “Lagunya terserah gue ya kak?” tanya Rara kepada kakaknya. “Iya terserah.” jawab Luna.
Setelah ketiganya selesai makan, Rara beranjak dari kursinya menuju ke panggung live music di restaurant itu. Dengan semangat, Rara terlihat sedang berdiskusi dengan band yang bekerja di restaurant tersebut. Rara mulai bernyanyi,

Many nights we prayed
With no proof, anyone could hear
In our hearts a hopeful song
We barely understood
Now we are not afraid
Although we know there's much to fear
We were moving mountains long
Before we knew we could, yes
There can be miracles
When you believe
Though hope is frail
Its hard to kill
Who knows what miracles
You can achieve

When you believe, somehow you will
You will when you believe
.
.
.
. (When You Believe – Witney Houstan and Mariah Carey)
Rara menyanyikan lagu itu untuk kakanya. Lagu yang ia percaya bisa membantu kakaknya bahwa pada akhirnya, semua akan baik-baik saja jika kamu percaya pada diri kamu sendiri. Luna dan Ibunya menatap Rara dengan pandangan terharu. Dan begitu Rara selesai bernyanyi, tepuk tangan seluruh pengunjung restaurant terdengar merdu mengiringi langkah Rara kembali ke tenpat duduknya. Luna menatap Rara dengan senyum lebar. Ibunya mengusap kepala Rara dan Rarapun tersipu malu.
.
.
.
Mereka bertiga sedang dalam perjalanan pulang kerumah saat Luna mendapati handphonenya berdering menandakan ia mendapat pesan baru. Luna mengintip handphonya lalu berusaha mengacuhkannya. Namun seperti yang terjadi semalam, pesan-pesan itu tidak hanya dikirim satu atau dua kali tapi puluhan kali. Ibu Luna yang memperhatikan gelagat Luna mulai bertanya. “Itu telfon kenapa ngga di angkat Lun?” tanya ibunya. “Engga bu, ini pesen dari profider, banyak spam akhir-akhir ini.” Luna terpaksa harus membohongi ibunya. Luna tidak mau ibunya tau, lalu menjadi sedih lagi.
Sesampainya dirumah, Luna berpamitan kepada Ibu dan adiknya untuk pergi ke kamar untuk beristirahat sebentar dan beralasan dirinya sangat lelah. Di kamar Luna membaca satu-satu pesan yang ia dapat. Kali ini, ia tidak sedih atau menetaskan air mata, perasaan marah kini menjalar ke seluruh tubuhnya. “Aku ngga akan ngebiarin sms sampah mace mini ngerusak semuanya. Aku harus kuat seperti biasanya.” Kata Luna pada dirinya sendiri.  Setelah itu Luna mengirim pesan kepada Diana, “Di, maen ketempat aku dong, ntar aku kasih martabak deh.” Setelah mengirim pesan kepada Diana, Luna melemparkan handphonenya ke kasur, dan Luna meraih kembali laptopnya dan seperti biasa ia membuka blognya.
“Terjatuh, terluka, bangkit, jatuh cinta, menangis, bahagia, kesedihan, cemooh, fitnah. Sunnguh, manusia bukan yang sempurna. Bukan bagaimana kita melupakan tapi bagaimana kita bisa berdamai pada diri sendiri. Mereka bilang semuanya akan baik-baik saja, asalkan kita menempatkan segala sesuatu pada porsinya,tidak usah di paksa. Bukankah Allah menjanjikan pelangi setelah hujan?”
“Ok Boss! Setengah jam lagi gue nyampe Lun,. Martabak I’m coming”.  Begitulah jawaban dari Diana. Luna tersenyum lebar membacanya. Luna tau, jika Diana adalah satu-satunya orang yang akan setia berteman dengannya sampai ia tua. Ya, Setidaknya itulah yang Luna pikir dan rasakan saat ini.

-         To be Continued


No comments:

Post a Comment

Chapter thirteen

There was a time when i thought everything was gonna last forever and everything was always gonna be ok. Just when i thought the story...