Hujan di bulan januari tak melunturkan indahnya senja sore itu.
Aku yang terbuai pada indahnya fatamorgana tersentak karena tetesan rintik hujan yg menyentuh hidungku.
Keindahan itu menjadi ironi ketika hati terasa sepi.
Aku yang telah mengabaikan banyaknya kejadian yang semesta ciptakan, terpaku pada pikiran tentangmu.
Kamu yang masih menjadi tema nomer satu yang tak pernah selesai untuk kuceritakan.
Masih ingat gerimis malam itu di bulan desember?
Rasa itu tak pernah buyar seperti 7 tahun yang lalu. Debarannya masih sama saat melihat tawamu.
Pikiranku senang sekali menerjemahkan segalanya tentangmu, bahwa ternyata malaikat itu juga bisa menunjukan tawanya.
Namun kamu memilih pergi dan mengacuhkanku.
Ternyata hati ini tak cukup layak untuk kamu jadikan rumah.
Aku pikir melupakanmu adalah suatu keharusan, tapi kenangan tentangmu sungguh tak tau diri. Mereka datang dan mengeroyokku begitu saja tak mau berhenti. sakit.
Jika mengikhlaskanmu berarti berjuang, maka aku akan berhenti berlari.
Tenang saja, cari saja aku di dalam hati, aku tetap disana jika kamu mulai mencari lagi.
-K

No comments:
Post a Comment