Ternyata perkara mengikhlaskan ini sedikit rumit.
Seperti keharusan melupakanmu dan menjadikanmu prioritas utama dalam soal mencoba mengesampingkan rasa sakit yang kamu torehkan, lalu berusaha untuk tetap menjalani hidup seperti biasanya.
Aku sungguh minta maaf karena telah memilih untuk mencintaimu sedemikian rupa, mengacuhkan rasa ragu, bahkan mendongeng tentangmu pernah menjadi topik paling penting dikehidupanku.
Kamu tetaplah kamu, iya kan?
Fatamorganaku.
Kamu yang lebih memilih untuk mengisi ruang kosong di hati yang lain, sementara ruang kosong di hati ini menjadi sangat berdebu.
Tak apa. Kataku berkali-kali.
Seperti layaknya pertemuan yang lain, ternyata jatuh cinta padamu juga harus berkahir dengan perpisahan.
Aku pikir dengan mencintaimu layaknya aku akan kehilanganmu itu sudah cukup. Namun tidak, bahkan mencoba menggapaimu hingga aku tersungkurpun tidak cukup untukmu.
Rumah memang soal rasa, tapi aku bukan rumah bagimu.
Aku tak sadar betapa brengseknya cinta memeperlakukanku.
Aku kira rinduku sudah habis, tapi nyatanya jari-jariku tak bisa berhenti menulis tentangmu.
Sajak-sajak ini sedang mengajariku untuk berjuang menahan rasa.
Jika nanti datang saatnya untuk aku terbangun dari ilusi fatamorganku, itu berarti aku sedang melihatmu bahagia, tanpa aku di dalamnya. -K

No comments:
Post a Comment